Postingan

Menampilkan postingan dengan label Isu global

Harapan di Jantung Amazon, Kekecewaan di Meja Perundingan: Ulasan Lengkap COP30 Belém

Gambar
Hutan hujan Amazon yang lembap dan riuh baru saja menjadi saksi bisu dari salah satu perhelatan diplomasi terbesar abad ini. Selama dua pekan terakhir (10–21 November 2025), kota Belém, Brasil , berubah menjadi pusat gravitasi dunia. Para pemimpin negara, ilmuwan, aktivis, dan masyarakat adat berkumpul untuk Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30). Ekspektasi yang digantungkan pada "Forest COP" ini sangat tinggi. Brasil, di bawah kepemimpinan Presiden Lula da Silva , berjanji untuk menjadikan konferensi ini sebagai titik balik; momen di mana dunia akhirnya berhenti berperang melawan alam. Namun, saat tenda-tenda dibongkar dan delegasi pulang hari ini, perasaan yang tertinggal adalah campuran antara optimisme yang hati-hati dan frustrasi yang mendalam. Kita memiliki mekanisme bersejarah untuk hutan, tetapi kita masih tidak memiliki rem darurat untuk bahan bakar fosil . Berikut adalah analisis mendalam mengenai apa yang berhasil diraih, dan di mana dunia kembali gag...

Gereja Memberikan Moralitas yang Jelas: Seruan Paus Leo XIV Kepada Konferensi Iklim COP30 di Brazil

Gambar
Konferensi Para Pihak (COP) ke-30 Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim , yang diadakan di Belém do Pará, Brasil , di gerbang Hutan Hujan Amazon , bukan sekadar pertemuan diplomatik. Bagi Gereja Katolik , ini adalah momen kairos , waktu yang krusial dan menentukan secara moral dan spiritual, untuk menghadapi krisis iklim yang semakin parah. Seruan dari Takhta Suci, yang disampaikan secara tegas oleh Paus Leo XIV , bersama dengan suara kolektif para Uskup dari Global Selatan ( Global South ) , menempatkan isu keadilan iklim dan pertobatan ekologis sebagai inti dari agenda global. Pesan Paus Leo XIV, yang melanjutkan warisan "Bapa Hijau" Paus Fransiskus , yang diwariskan melalui ensiklik Laudato Si , menggema di lorong-lorong COP30: " Ciptaan sedang menjerit ." Tiga Pilar Seruan Gereja Katolik: Dari Hati ke Aksi Seruan Gereja Katolik menjelang dan selama COP30 dapat diringkas dalam tiga pilar utama yang saling terkait: pengakuan realitas, keadilan ya...

"Hutan kami bukan untuk dijual": Protes masyarakat adat pada COP30 di Belém, Brazil

Gambar
Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) yang berlangsung di Belém, Brasil, menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah diplomasi iklim. Untuk pertama kalinya, pertemuan global ini digelar di kawasan Amazon—paru-paru dunia yang menyimpan harapan sekaligus ancaman bagi masa depan iklim planet ini. Protes masyarakat adat: “Hutan kami bukan untuk dijual” Protes masyarakat adat di COP30 (Sumber: CCN) Pada 11 November 2025, puluhan demonstran—sebagian besar dari komunitas adat—memaksa masuk ke pusat konferensi. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Our forest is not for sale” dan menuntut penghentian eksplorasi minyak serta penambangan ilegal di Amazon. Bentrok dengan petugas keamanan tak terhindarkan. Dua penjaga dilaporkan mengalami luka ringan, sementara kerusakan kecil terjadi di area konferensi. Pesan utama mereka jelas: demarkasi wilayah adat adalah kebijakan iklim yang nyata. Seorang pemimpin adat Tupinamba, Nato, menyatakan: “Kami tidak bisa makan uang. Kami ingin ta...

Konferensi Iklim COP30 di Belém Brazil: 10 tahun pasca Paris Agreement dan agenda krusial

Gambar
Satu dekade yang lalu, pada tahun 2015, dunia bersatu di Paris, menandatangani sebuah kesepakatan iklim monumental: Paris Agreement . Dengan janji ambisius untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 2°C, dan target ideal 1,5°C di atas tingkat pra-industri, kesepakatan ini memancarkan harapan akan masa depan yang lebih hijau. Namun, sepuluh tahun berlalu, realitas justru semakin menantang. Tahun 2024 mencatat suhu rata-rata global melampaui 1,55°C, diiringi oleh bencana iklim yang kian intens di seluruh dunia. Dalam konteks ini, Konferensi Para Pihak ke-30 (COP30) di Belém, Brasil , pada 10-21 November 2025 hadir bukan hanya sebagai peringatan satu dekade, tetapi sebagai panggung krusial untuk menentukan langkah nyata demi masa depan iklim global. Belém: Simbol perjuangan di gerbang Amazon Pemilihan Belém, kota di tepi hutan Amazon , sebagai tuan rumah COP30 adalah pesan simbolis yang kuat. Amazon, sebagai paru-paru dunia, krusial bagi penyerapan karbon, namun terus terancam oleh ...

Ketika “kemenangan” bukan soal menang: Strategi narasi kemenangan Iran ala Khamenei

Gambar
"Saya merasa perlu untuk menyampaikan beberapa ucapan selamat kepada bangsa Iran yang besar: Pertama, selamat atas kemenangan atas rezim Zionis palsu. Dengan segala hiruk-pikuk itu, dengan semua klaim tersebut, rezim Zionis, di bawah pukulan Republik Islam, hampir runtuh dan hancur" (Ayatullah Ali Khamenei, Jerusalem Post, 26 Juni 2025). Kemenangan yang aneh Itulah pernyataan resmi Khamenei menyambut “kemenangan meyakinkan” (decisive victory)  Iran atas Israel dalam perang 12 hari yang baru saja berakhir. Di jalan-jalan Tehran kita menyaksikan perayaan kemenangan yang ramai. Menyaksikan melalui saluran-saluran TV internasional dan media-media independen logika lurus kita tentu akan bertanya: Kok Iran menang? Bukankah fakta menunjukkan kebalikannya? Pertanyaan itu muncul dari fakta bahwa Iran sebenarnya babak beluk dihantam bom-bom Israel. Israel menguasai udara dan sejak hari pertama tak ada pertahanan udara Iran yang bisa menghalau jet-jet tempur Israel. Jenderal-jendera...

Indeks Perdamaian Global 2024: Dunia makin kurang damai lagi

Gambar
Global Peace Index (GPI) 2024 menunjukkan penurunan rata-rata tingkat keamanan global sebesar 0.56%. Ini adalah penurunan ke-12 dalam 16 tahun terakhir, dengan 97 negara mengalami penurunan keamanan dan 65 negara meningkat. Islandia tetap sebagai negara paling damai di dunia, diikuti oleh Irlandia, Austria, Selandia Baru, dan Singapura. Sementara itu, Yemen menjadi negara yang paling tidak damai, diikuti oleh Sudan, Sudan Selatan, Afghanistan, dan Ukraina. Pen urunan ini disebabkan oleh meningkatnya konflik bersenjata di beberapa wilayah, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut, dan dampak krisis ekonomi global yang memperburuk stabilitas sosial di banyak negara. Konflik di kawasan seperti Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Sub-Sahara menjadi penyumbang utama memburuknya indeks. Konflik Geopolitik yang Berkelanjutan Konflik Rusia-Ukraina masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi skor perdamaian global. Konflik ini tidak hanya menyebabkan ketidakstabilan di kawasan E...

"Unprecedented", ledakan pager dan walkie-talkie di Lebanon dan kemungkinan eskalasi perang Hizbullah-Israel

Gambar
 "Unprecedented", tulis beberapa media luar negeri mengenai serangan terhadap Hizbullah dalam bentuk ledakan pager dan walkie-talkie.  Maksudnya, serangan itu baru pertama kali terjadi di dunia dan sangat inovatif. Hizbullah langsung menuding Israel di balik serangan. Namun Israel tetap bungkam, tidak menyanggah dan tidak mengiyakan.  Apa yang Terjadi? Pada tanggal 17 September 2024, ribuan pager tangan yang digunakan oleh Hisbollah, sebuah partai politik dan milisi Lebanon, meledak secara bersamaan di seluruh Lebanon dan Suriah. Ledakan ini diikuti oleh serangkaian ledakan walkie-talkie pada hari berikutnya. Ilustrasi AI Ledakan pager melukai sedikitnya 2800 orang dan membunuh 12 orang, kebanyakan anggota Hizbullah. Namun ada juga anak-anak, perawat dan warga sipil lain. Sebuah tulisan di Jerusalem Post mengatakan bahwa orang yang terlihat berpakaian sipil mungkin saja anggota Hizbullah karena mereka sering menyamar sebagai orang sipil biasa (bukan milisi). Duta Besar ...

Hak aborsi di dalam konstitusi Prancis: Pertentangan antara dua hak azasi?

Gambar
Pada 28 Februari 2024 Senat Prancis menyetujui dimasukkannya hak perempuan untuk melakukan aborsi ke dalam konstitusi negara itu. Pada Senin 4 Maret Parlemen menyetujui hal yang sama dengan lebih dari tiga per lima mayoritas yang diperlukan. Kemudian pada Hari Perempuan Sedunia  (International Women's Day)  8 Maret diadakan upacara pemeteraian amandemen konstitusi yang dihadiri oleh Presiden Emmanuel Macron dan Menteri Kehakiman Eric Dupon-Moretti. Argumen di balik keputusan Prancis untuk memasukkan hak aborsi ke dalam konstitusinya terdapat banyak aspek yang mencerminkan kombinasi konteks sejarah, opini publik, dan pertimbangan hukum. Mari kita selidiki beberapa aspek utama: Konteks Sejarah Sejarah panjang Prancis dalam mendukung hak Aborsi: Prancis memiliki sikap progresif terhadap hak-hak reproduksi. Aborsi didekriminalisasi sejak tahun 1975 melalui undang-undang yang diambil dari nama Simone Veil, menteri kesehatan yang memperjuangkannya. Awalnya, undang-undang mengizinka...

Dunia menjauh dari damai: Review status perdamaian "Global Peace Index 2014-2023"

Gambar
Pada akhir tahun 2023 dan menjelang tahun baru 2024 dunia terkesan tidak sedang baik-baik saja, tidak menjadi lebih damai, malah sebaliknya. Ada perang Israel-Hamas yang membunuh puluhan ribu orang. Ada perang di Ukraina yang tidak jelas kapan akan berakhir, perang Sudan, situasi panas geopolitik di Timur Tengah, masyarakat dikuasai geng penjahat di Haiti, perang militer lawan rakyat di Myanmar, isu migrasi ilegal ke Eropa dan Amerika Serikat.  Credit: Pixabay Asia Timur juga menjadi panas oleh perseteruan soal Taiwan, pengembangan dan uji coba senjata oleh Korea Utara, provokasi oleh China di luat China Selatan. Masih banyak lagi masalah perdamaian lain di Afrika dan berbagai belahan bumi lain. Penasaran, saya coba mencari data yang dapat mendukung "kesan" tersebut. Ada banyak informasi di internet. Satu di antaranya yang dapat menjadi pegangan adalah Global Peace Index (GPI) alias Indeks Perdamaian Global (IPG). Dalam tulisan ini dipakai singkatan GPI. GPI dikeluarkan seti...

Speedboat ke pedalaman Mahakam

Speedboat ke pedalaman Mahakam
Martinus Nanang di dermaga Samarinda Ilir