Dari "Like" ke pembenaran diri: Medsos dan evolusi pikiran menuju radikalisme
Apa itu ruang gema?
Secara harafiah, “ruang gema” (echo chamber) adalah sebuah
ruangan di mana suara kita terpantul kembali ke telinga kita sendiri. Dalam
konteks informasi, echo chamber adalah sebuah lingkungan digital atau
sosial di mana seseorang hanya terpapar pada keyakinan atau opini yang sejalan
dengan pikiran mereka sendiri. Di sini, gagasan-gagasan yang ada diperkuat
melalui pengulangan, sementara pandangan alternatif disensor, didiskreditkan,
atau sepenuhnya disingkirkan dari radar.
Terbentuknya ruang gema ini didorong oleh dua mesin utama: teknologi dan
psikologi manusia. Secara teknologi, algoritma media sosial dirancang untuk
memaksimalkan durasi pengguna di dalam platform. Cara termudahnya adalah dengan
menyajikan konten yang kita sukai. Jika Anda menyukai konten politik dari
spektrum kiri, algoritma akan terus menyajikan narasi serupa. Tanpa sadar, kita
terjebak dalam "gelembung filter" (filter bubble) yang membuat
kita merasa bahwa seluruh dunia memiliki pemikiran yang sama dengan kita.
Secara psikologis, manusia secara alami memiliki confirmation bias
atau bias konfirmasi. Kita cenderung mencari informasi yang mendukung keyakinan
kita dan mengabaikan informasi yang menantangnya. Mendengar bahwa kita benar
memberikan rasa nyaman dan validasi, sementara menghadapi opini yang berbeda
memicu ketidaknyamanan kognitif (cognitive dissonance). Kombinasi antara
algoritma yang efisien dan ego manusia yang rapuh inilah yang menciptakan
dinding gema yang tebal.
Penyempitan pikiran dan matinya nuansa
Dampak pertama dari echo chamber adalah penyempitan pikiran.
Dalam lingkungan yang homogen, dialektika (proses pencarian kebenaran melalui
pertentangan ide) mengalami mati suri. Ketika seseorang tidak pernah
berinteraksi dengan argumen lawan yang kuat, kemampuan kritisnya untuk membedah
masalah secara objektif akan tumpul.
Pikiran yang sempit ditandai oleh hilangnya nuansa. Masalah dunia yang
kompleks dan berlapis-lapis dipangkas menjadi narasi hitam-putih yang
sederhana. Dalam ruang gema, tidak ada ruang bagi keraguan. "Kami"
selalu benar, jujur, dan bermoral, sementara "Mereka" selalu salah,
licik, dan jahat. Polarisasi ini menciptakan mentalitas "kita vs.
mereka" (us vs. them) yang sangat tajam.
Hilangnya nuansa ini sangat berbahaya karena akan menghancurkan empati
intelektual. Empati intelektual adalah kemampuan untuk membayangkan mengapa
seseorang bisa memiliki pandangan yang berbeda dari kita. Tanpa ini, perdebatan
bukan lagi mencari solusi, melainkan upaya untuk menghancurkan lawan bicara.
Informasi yang masuk tidak lagi disaring berdasarkan kebenarannya, melainkan
berdasarkan apakah informasi tersebut menguntungkan atau tidak menguntungkan
bagi kelompoknya. Inilah yang disebut sebagai post-truth, di mana fakta
objektif kalah pengaruhnya oleh emosi dan keyakinan pribadi.
Dari pikiran sempit
menuju radikalisme
Bagaimana pikiran yang sempit bertransformasi menjadi radikalisme?
Radikalisme, dalam konteks sosiopolitik, seringkali berawal dari rasa
keterasingan atau ketidakpuasan yang kemudian dipandu oleh ideologi ekstrem
yang menawarkan kepastian. Echo chambers mempercepat proses ini melalui
beberapa tahap yang sistematis.
Pertama, Dehumanisasi lawan
Di dalam ruang gema, pihak luar seringkali digambarkan dengan karikatur
yang buruk. Karena tidak ada komunikasi langsung dengan "pihak
seberang", anggota kelompok mulai memandang lawan bukan lagi sebagai
sesama manusia dengan kekhawatiran yang valid, melainkan sebagai ancaman atau
musuh yang harus dilenyapkan. Dehumanisasi adalah syarat mutlak bagi
radikalisme untuk membenarkan tindakan-tindakan ekstrem.
Kedua, Eskalasi komunal
Penelitian menunjukkan bahwa ketika sekelompok orang yang berpikiran
sama berdiskusi, pandangan mereka cenderung menjadi lebih ekstrem daripada
posisi awal mereka. Ini disebut sebagai polarisasi kelompok. Di dalam echo
chamber, ada tekanan sosial untuk menunjukkan kesetiaan pada kelompok
dengan cara menunjukkan sikap yang paling radikal. Siapa yang paling keras
bersuara seringkali dianggap yang paling berintegritas.
Ketiga, Validasi kebenaran mutlak
Radikalisme membutuhkan keyakinan bahwa hanya ada satu kebenaran tunggal
dan mutlak. Ruang gema menyediakan ini melalui pengulangan tanpa henti. Ketika
seseorang dikelilingi oleh ribuan akun atau orang yang mengatakan hal yang
sama, kebohongan sekalipun akan mulai terdengar seperti kebenaran universal.
Hal ini menciptakan perasaan superioritas moral, di mana penganutnya
merasa terpanggil untuk "menyelamatkan" atau "membersihkan"
dunia dari pandangan lain.
Keempat, Isolasi dari realitas
Pada tahap lanjut, echo chamber memutus hubungan penggunanya
dengan realitas luar. Informasi dari media arus utama atau lembaga ilmiah
dianggap sebagai bagian dari konspirasi lawan. Dalam kondisi terisolasi secara
kognitif ini, individu menjadi sangat rentan terhadap rekrutmen oleh kelompok-kelompok
radikal yang menawarkan rasa persaudaraan dan tujuan hidup yang ekstrem.
Media sosial sebagai katalisator
Penting untuk disadari bahwa media sosial bukan sekadar alat, melainkan
lingkungan yang aktif membentuk perilaku. Fitur seperti "like",
"share", dan "retweet" menciptakan sistem penghargaan
instan bagi konten yang memicu kemarahan atau kebencian. Konten yang provokatif
cenderung lebih cepat viral daripada analisis yang tenang dan mendalam.
Dalam ekosistem ini, kelompok radikal sangat piawai memanfaatkannya.
Mereka menggunakan narasi-narasi yang menyentuh emosi dasar manusia: rasa
takut, amarah, dan kebanggaan kelompok. Dengan algoritma yang bekerja di
belakang layar, narasi radikal ini dapat disuntikkan langsung ke layar ponsel
individu yang sedang mengalami krisis identitas atau ketidakpuasan sosial,
menarik mereka perlahan ke dalam lubang kelinci (rabbit hole)
ekstremisme.
Memutus rantai gema
Mengatasi dampak buruk echo chambers dan radikalisme membutuhkan pendekatan multidimensi yang melibatkan teknologi, kebijakan publik, dan yang paling penting, kesadaran individu
Pertama, Literasi digital dan berpikir kritis
Pendidikan bukan lagi sekadar membaca dan menulis, tetapi bagaimana menavigasi lautan informasi. Masyarakat perlu diajarkan untuk mengenali bias mereka sendiri, memverifikasi sumber informasi, dan memahami cara kerja algoritma. Kemampuan untuk meragukan informasi yang terlalu sesuai dengan keinginan kita adalah benteng pertama melawan manipulasi.
Kedua, Kerendahan hati intelektual (Intellectual humility)
Kita perlu menumbuhkan budaya di mana mengakui kesalahan atau ketidaktahuan bukan dianggap sebagai kelemahan, melainkan kekuatan. Kerendahan hati intelektual memungkinkan kita untuk mendengarkan orang lain dengan niat untuk memahami, bukan sekadar untuk membalas argumen.
Ketiga, Tanggung jawab platform teknologi
Perusahaan teknologi memiliki tanggung jawab moral untuk mendesain algoritma yang tidak hanya memprioritaskan engagement, tetapi juga keberagaman informasi. Transparansi algoritma dan upaya untuk menekan penyebaran disinformasi tanpa memberangus kebebasan berpendapat adalah tantangan teknis yang harus diselesaikan.
Keempat, Ruang publik yang inklusif
Kita perlu menghidupkan kembali ruang-ruang
fisik maupun digital di mana orang-orang dari latar belakang berbeda dapat
berinteraksi secara sehat. Dialog antariman, diskusi lintas politik, dan
kolaborasi sosial dapat membantu meruntuhkan prasangka yang dibangun oleh
dinding gema.
Kesimpulan
Echo chambers adalah
paradoks dari kemajuan teknologi kita. Di saat kita memiliki akses tak terbatas
ke pengetahuan manusia, kita justru sering memilih untuk meringkuk dalam gua
sempit yang hanya berisi pantulan suara kita sendiri. Pikiran yang sempit
adalah benih, dan ruang gema adalah tanah yang subur. Jika dibiarkan, ia akan
tumbuh menjadi radikalisme yang mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan
bermasyarakat.
Keluar dari ruang gema memang tidak nyaman. Ia menuntut kita untuk
menghadapi ketidakpastian, menerima perbedaan, dan terkadang mengakui bahwa
kita salah. Namun, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah kedewasaan
berpikir. Masa depan peradaban manusia tidak bergantung pada seberapa canggih
algoritma yang kita buat, melainkan pada seberapa mampu kita mempertahankan
kemanusiaan kita di tengah gempuran dinding-dinding digital yang memisahkan
kita. Hanya dengan berani mendengarkan suara di luar dinding gema, kita dapat
benar-benar memahami dunia dengan segala warna dan kerumitannya.

Komentar
Posting Komentar