Dari "Like" ke pembenaran diri: Medsos dan evolusi pikiran menuju radikalisme

Dunia digital awalnya dijanjikan sebagai sebuah "desa global" di mana informasi mengalir bebas dan sekat-sekat antarmanusia runtuh. Namun, dua dekade setelah revolusi media sosial, kenyataan yang muncul justru sebaliknya. Bukannya menjadi lebih terbuka, masyarakat modern seringkali terjebak dalam sekat-sekat tak kasat mata yang disebut sebagai echo chambers atau ruang gema. Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis algoritma; ia adalah ancaman eksistensial bagi nalar sehat, keterbukaan pikiran, dan stabilitas sosial yang pada titik ekstremnya menjadi persemaian subur bagi radikalisme.

Apa itu ruang gema?

Secara harafiah, “ruang gema” (echo chamber) adalah sebuah ruangan di mana suara kita terpantul kembali ke telinga kita sendiri. Dalam konteks informasi, echo chamber adalah sebuah lingkungan digital atau sosial di mana seseorang hanya terpapar pada keyakinan atau opini yang sejalan dengan pikiran mereka sendiri. Di sini, gagasan-gagasan yang ada diperkuat melalui pengulangan, sementara pandangan alternatif disensor, didiskreditkan, atau sepenuhnya disingkirkan dari radar.

Terbentuknya ruang gema ini didorong oleh dua mesin utama: teknologi dan psikologi manusia. Secara teknologi, algoritma media sosial dirancang untuk memaksimalkan durasi pengguna di dalam platform. Cara termudahnya adalah dengan menyajikan konten yang kita sukai. Jika Anda menyukai konten politik dari spektrum kiri, algoritma akan terus menyajikan narasi serupa. Tanpa sadar, kita terjebak dalam "gelembung filter" (filter bubble) yang membuat kita merasa bahwa seluruh dunia memiliki pemikiran yang sama dengan kita.

Secara psikologis, manusia secara alami memiliki confirmation bias atau bias konfirmasi. Kita cenderung mencari informasi yang mendukung keyakinan kita dan mengabaikan informasi yang menantangnya. Mendengar bahwa kita benar memberikan rasa nyaman dan validasi, sementara menghadapi opini yang berbeda memicu ketidaknyamanan kognitif (cognitive dissonance). Kombinasi antara algoritma yang efisien dan ego manusia yang rapuh inilah yang menciptakan dinding gema yang tebal.

Penyempitan pikiran dan matinya nuansa

Dampak pertama dari echo chamber adalah penyempitan pikiran. Dalam lingkungan yang homogen, dialektika (proses pencarian kebenaran melalui pertentangan ide) mengalami mati suri. Ketika seseorang tidak pernah berinteraksi dengan argumen lawan yang kuat, kemampuan kritisnya untuk membedah masalah secara objektif akan tumpul.

Pikiran yang sempit ditandai oleh hilangnya nuansa. Masalah dunia yang kompleks dan berlapis-lapis dipangkas menjadi narasi hitam-putih yang sederhana. Dalam ruang gema, tidak ada ruang bagi keraguan. "Kami" selalu benar, jujur, dan bermoral, sementara "Mereka" selalu salah, licik, dan jahat. Polarisasi ini menciptakan mentalitas "kita vs. mereka" (us vs. them) yang sangat tajam.

Hilangnya nuansa ini sangat berbahaya karena akan menghancurkan empati intelektual. Empati intelektual adalah kemampuan untuk membayangkan mengapa seseorang bisa memiliki pandangan yang berbeda dari kita. Tanpa ini, perdebatan bukan lagi mencari solusi, melainkan upaya untuk menghancurkan lawan bicara. Informasi yang masuk tidak lagi disaring berdasarkan kebenarannya, melainkan berdasarkan apakah informasi tersebut menguntungkan atau tidak menguntungkan bagi kelompoknya. Inilah yang disebut sebagai post-truth, di mana fakta objektif kalah pengaruhnya oleh emosi dan keyakinan pribadi.

Dari pikiran sempit menuju radikalisme

Bagaimana pikiran yang sempit bertransformasi menjadi radikalisme? Radikalisme, dalam konteks sosiopolitik, seringkali berawal dari rasa keterasingan atau ketidakpuasan yang kemudian dipandu oleh ideologi ekstrem yang menawarkan kepastian. Echo chambers mempercepat proses ini melalui beberapa tahap yang sistematis.

Pertama, Dehumanisasi lawan

Di dalam ruang gema, pihak luar seringkali digambarkan dengan karikatur yang buruk. Karena tidak ada komunikasi langsung dengan "pihak seberang", anggota kelompok mulai memandang lawan bukan lagi sebagai sesama manusia dengan kekhawatiran yang valid, melainkan sebagai ancaman atau musuh yang harus dilenyapkan. Dehumanisasi adalah syarat mutlak bagi radikalisme untuk membenarkan tindakan-tindakan ekstrem.

Kedua, Eskalasi komunal

Penelitian menunjukkan bahwa ketika sekelompok orang yang berpikiran sama berdiskusi, pandangan mereka cenderung menjadi lebih ekstrem daripada posisi awal mereka. Ini disebut sebagai polarisasi kelompok. Di dalam echo chamber, ada tekanan sosial untuk menunjukkan kesetiaan pada kelompok dengan cara menunjukkan sikap yang paling radikal. Siapa yang paling keras bersuara seringkali dianggap yang paling berintegritas.

Ketiga, Validasi kebenaran mutlak

Radikalisme membutuhkan keyakinan bahwa hanya ada satu kebenaran tunggal dan mutlak. Ruang gema menyediakan ini melalui pengulangan tanpa henti. Ketika seseorang dikelilingi oleh ribuan akun atau orang yang mengatakan hal yang sama, kebohongan sekalipun akan mulai terdengar seperti kebenaran universal. Hal ini menciptakan perasaan superioritas moral, di mana penganutnya merasa terpanggil untuk "menyelamatkan" atau "membersihkan" dunia dari pandangan lain.

Keempat, Isolasi dari realitas

Pada tahap lanjut, echo chamber memutus hubungan penggunanya dengan realitas luar. Informasi dari media arus utama atau lembaga ilmiah dianggap sebagai bagian dari konspirasi lawan. Dalam kondisi terisolasi secara kognitif ini, individu menjadi sangat rentan terhadap rekrutmen oleh kelompok-kelompok radikal yang menawarkan rasa persaudaraan dan tujuan hidup yang ekstrem.

Media sosial sebagai katalisator

Penting untuk disadari bahwa media sosial bukan sekadar alat, melainkan lingkungan yang aktif membentuk perilaku. Fitur seperti "like", "share", dan "retweet" menciptakan sistem penghargaan instan bagi konten yang memicu kemarahan atau kebencian. Konten yang provokatif cenderung lebih cepat viral daripada analisis yang tenang dan mendalam.

Dalam ekosistem ini, kelompok radikal sangat piawai memanfaatkannya. Mereka menggunakan narasi-narasi yang menyentuh emosi dasar manusia: rasa takut, amarah, dan kebanggaan kelompok. Dengan algoritma yang bekerja di belakang layar, narasi radikal ini dapat disuntikkan langsung ke layar ponsel individu yang sedang mengalami krisis identitas atau ketidakpuasan sosial, menarik mereka perlahan ke dalam lubang kelinci (rabbit hole) ekstremisme.

Memutus rantai gema

Mengatasi dampak buruk echo chambers dan radikalisme membutuhkan pendekatan multidimensi yang melibatkan teknologi, kebijakan publik, dan yang paling penting, kesadaran individu

Pertama, Literasi digital dan berpikir kritis

Pendidikan bukan lagi sekadar membaca dan menulis, tetapi bagaimana menavigasi lautan informasi. Masyarakat perlu diajarkan untuk mengenali bias mereka sendiri, memverifikasi sumber informasi, dan memahami cara kerja algoritma. Kemampuan untuk meragukan informasi yang terlalu sesuai dengan keinginan kita adalah benteng pertama melawan manipulasi.

Kedua, Kerendahan hati intelektual (Intellectual humility)

Kita perlu menumbuhkan budaya di mana mengakui kesalahan atau ketidaktahuan bukan dianggap sebagai kelemahan, melainkan kekuatan. Kerendahan hati intelektual memungkinkan kita untuk mendengarkan orang lain dengan niat untuk memahami, bukan sekadar untuk membalas argumen.

Ketiga, Tanggung jawab platform teknologi

Perusahaan teknologi memiliki tanggung jawab moral untuk mendesain algoritma yang tidak hanya memprioritaskan engagement, tetapi juga keberagaman informasi. Transparansi algoritma dan upaya untuk menekan penyebaran disinformasi tanpa memberangus kebebasan berpendapat adalah tantangan teknis yang harus diselesaikan.

Keempat, Ruang publik yang inklusif

Kita perlu menghidupkan kembali ruang-ruang fisik maupun digital di mana orang-orang dari latar belakang berbeda dapat berinteraksi secara sehat. Dialog antariman, diskusi lintas politik, dan kolaborasi sosial dapat membantu meruntuhkan prasangka yang dibangun oleh dinding gema.

Kesimpulan

Echo chambers adalah paradoks dari kemajuan teknologi kita. Di saat kita memiliki akses tak terbatas ke pengetahuan manusia, kita justru sering memilih untuk meringkuk dalam gua sempit yang hanya berisi pantulan suara kita sendiri. Pikiran yang sempit adalah benih, dan ruang gema adalah tanah yang subur. Jika dibiarkan, ia akan tumbuh menjadi radikalisme yang mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Keluar dari ruang gema memang tidak nyaman. Ia menuntut kita untuk menghadapi ketidakpastian, menerima perbedaan, dan terkadang mengakui bahwa kita salah. Namun, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah kedewasaan berpikir. Masa depan peradaban manusia tidak bergantung pada seberapa canggih algoritma yang kita buat, melainkan pada seberapa mampu kita mempertahankan kemanusiaan kita di tengah gempuran dinding-dinding digital yang memisahkan kita. Hanya dengan berani mendengarkan suara di luar dinding gema, kita dapat benar-benar memahami dunia dengan segala warna dan kerumitannya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumpun Dayak ini pernah punya usulan nama IKN dan gedung-gedung penting

Dialog Etnografi Borneo: Membangun pemahaman tentang keberagaman Kalimantan

"Unprecedented", ledakan pager dan walkie-talkie di Lebanon dan kemungkinan eskalasi perang Hizbullah-Israel

Speedboat ke pedalaman Mahakam

Speedboat ke pedalaman Mahakam
Martinus Nanang di dermaga Samarinda Ilir