Kemarau Panjang dan Kebakaran Hutan di Kalimantan Makin Sering. Kenapa?
Kenapa Kemarau Panjang dan Kebakaran Hutan di Kalimantan Makin Sering? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Prof. Dr. Paulus Matius
(Diringkas dari manuskrip asli dengan persetujuan penulis oleh Martinus Nanang)
![]() |
| Ilustrasi: AI |
Sebelum tahun 1980, 90% Kalimantan masih hutan primer yang utuh. Hutan dan lahan tidak pernah terbakar skala besar, bahkan saat El Niño kuat melanda.
Data mencatat sejak 1877 ada 20 kejadian ENSO (El Niño Southern Oscilation), rata-rata 6 tahun sekali. Namun hutan itu adalah spons raksasa yang menolak api. Sekarang spons itu sudah robek. Hampir tiap tahun kita cemas menanti kemarau. Apa yang sebenarnya kita hilangkan?
Spons raksasa yang menciptakan hujannya sendiri
Hutan tropis Kalimantan bukan cuma kumpulan pohon. Hutan itu adalah bangunan empat lapis yang dirancang alam untuk menyimpan air. Lapisan teratas pohon raksasa 30-50 meter, di bawahnya pohon sedang, lalu pohon kecil 4-20 meter, dan di dasar semak, herba, serta serasah dan humus yang tebal.
Struktur ini menahan air hujan agar tidak langsung menghantam tanah dan merusaknya, lalu meresapkannya perlahan. Tidak ada air yang langsung lari ke sungai menjadi banjir.
Hitungannya mencengangkan. Hutan hujan tropis seluas 48 juta ha mampu menyimpan 210-430 mm air hanya di kedalaman 0-50 cm, dengan total kapasitas 100,8 - 206,4 miliar m3.
Infiltrasi mencapai 60-80% dari curah hujan, atau 576 - 1.536 miliar m3 per tahun. Evapotranspirasi atau penguapan dari daun dan tanahnya mencapai 576-720 miliar m3 per tahun.
Hutan gambut alami seluas 5,7 juta ha memiliki kapasitas simpan hingga 90% dengan kedalaman 3-10 meter. Total simpanannya 85,5 - 228 miliar m3 air yang mengisi dan mengosong setiap tahun. Evapotranspirasinya 68,4 - 85,5 miliar m3 per tahun.
Hutan mangrove (bakau) seluas 1,2 juta ha sebelum 1980 berfungsi menahan abrasi dan menyimpan 3.000-20.000 m3 per ha dari pasang surut, atau 3,6 - 24 miliar m3 per tahun. Evapotranspirasinya 18-27 miliar m3 per tahun.
Jika digabungkan, total evapotranspirasi dari 54,9 juta ha formasi hutan utuh di Kalimantan adalah 651,6 - 832,5 miliar m3 per tahun.
Yang paling penting, 40-55% dari uap itu akan jatuh lagi sebagai hujan di Kalimantan sendiri. Ini disebut daur ulang hujan. Dari hutan hujan tropis saja, 230-360 miliar m3 kembali menjadi hujan lokal.
Angka ini dikonfirmasi oleh studi Spracklen et al., 2012 dan van der Ent & Savenije, 2014 yang menyebut 40-55% hujan di Borneo adalah daur ulang dari hutan.
Proses ini diperkuat oleh mekanisme yang disebut pompa biotik. Kondensasi besar di atas hutan menciptakan tekanan rendah yang menyedot angin lembab dari Laut Cina Selatan, Laut Jawa, dan Laut Sulawesi dari jarak 1.000-2.000 km ke daratan.
Teori Makarieva & Gorshkov, 2007 menjelaskan hutan Kalimantan menarik total 3-4 triliun m3 uap air laut per tahun. Dari jumlah itu, 1,2 - 2,2 triliun m3 akan berkondensasi dan jatuh di atas pulau, ditambah 264,6 - 439,75 miliar m3 dari daur ulang hutan.
Total hujan alami saat hutan masih utuh mencapai 1.464,6 - 2.639,75 triliun m3 per tahun.
Singkatnya, hutan Kalimantan menciptakan hujannya sendiri. Ketika hutan hilang, hujan itu pun hilang.
Lanskap yang berubah menjadi lahan penguras air
Dari 1980 sampai 2026, Kalimantan kehilangan ±22,5 juta ha hutan alam. Tiga sektor besar yang paling dominan menyedot lahan adalah sawit, HTI, dan tambang.
Untuk sawit, luas hutan alam yang dikonversi mencapai 6,5 - 8,0 juta ha. Studi Carlson menyebut 90% deforestasi Kalimantan periode 1990-2010 dikonversi jadi sawit.
Emisi karbonnya melonjak dari 0,09 gigaton pada 1990-2000 menjadi 0,32 gigaton pada 2000-2010.
Data gabungan BPS dan Ditjen Perkebunan 2025 menyebutkan luas sawit Kalimantan sekarang ±6,8 juta ha.
Di Kalteng saja tahun 2014 sudah 1,156 juta ha. Target Kalteng 2020 adalah 3,5 juta ha dan di 2026 target itu sudah tercapai atau terlampaui.
Data WALHI 2023 untuk Kalteng: dari 15,4 juta ha luas provinsi, 9,1 juta ha dikuasai perusahaan besar, rinciannya 2,9 juta ha perkebunan, 1 juta ha tambang, dan 5,1 juta ha sektor kehutanan atau HTI.
Di Kalsel, WALHI mencatat hampir 50% luas provinsi sudah dikonversi jadi tambang dan sawit. Yang lebih mengkhawatirkan, studi di Nature Climate Change menyebut 79% izin sawit di Kalimantan masih belum dibuka.
Jika semua dibuka, emisi bisa 1,52 gigaton karbon. Banyak izin itu ada di gambut. ICCT (International Council on Clean Transportation) mencatat 5,5 juta ha gambut Indonesia sudah dialokasikan untuk sawit.
Untuk HTI monokultur, luasnya ±2,5 - 3,5 juta ha dengan jenis eksotik seperti eucalyptus, akasia, dan gmelina. Awalnya untuk menyuplai pulp dan kertas agar tidak tebang hutan alam, namun praktiknya sebagian besar dengan konversi hutan alam.
Target 2030 adalah 10,5 juta ha HTI dibangun di seluruh Kalimantan. HTI di gambut menyebabkan penurunan kematangan tanah dan percepatan penurunan muka tanah.
Drainase gambut untuk HTI memicu kebakaran yang dalam. Total HTI di gambut diperkirakan 2,5-3,5 juta ha.
Untuk tambang batubara, luasnya sekitar 1,0 - 1,5 juta ha dan booming sejak 2000-an. Di Kalteng 1 juta ha hutan dikuasai tambang.
Banjir besar 2021 di Kalsel dikaitkan dengan kerusakan daya dukung hulu akibat industri ekstraktif tambang batubara, HTI, dan HPH di pegunungan Meratus. Angka pasti sulit karena banyak IUP tumpang tindih.
Dampak hidrologinya brutal. Jika 22,5 juta ha itu masih berupa hutan, potensinya menguapkan air adalah 267,0 - 341,2 miliar m3 per tahun.
Namun setelah berubah menjadi sawit, HTI, tambang, dan lahan terbuka, evapotranspirasi aktual turun drastis hanya berkisar 600 mm per tahun atau setara 6.000 m3 per ha. Total ET (evapotranspiration) aktual dari 22,5 juta ha pasca konversi diperkirakan hanya 135,0 miliar m3 per tahun.
Selisihnya adalah kehilangan kemampuan evapotranspirasi sebesar 132,0 miliar m3 per tahun pada skenario rendah hingga 206,2 miliar m3 pada skenario tinggi.
Nilai tengahnya 169,1 miliar m3 per tahun. Ini berarti curah hujan yang hilang sebesar 52,8 - 133,41 miliar m3 per tahun.
Inilah mengapa beberapa wilayah di Kalimantan kini lebih sering mengalami kekeringan saat kemarau dan banjir saat hujan. Air tidak lagi ditahan dan diuapkan oleh tajuk dan akar pohon.
Secara total, Kalimantan sudah kehilangan 14,4 juta ha hutan perawan yang menyebabkan kehilangan kemampuan menahan air sebesar 461 miliar m3 per tahun, kehilangan kemampuan menyerap CO2 sebesar 528 juta ton per tahun, dan kehilangan kemampuan produksi O2 sebesar 144 juta ton per tahun.
El Niño bertemu lanskap yag sudah kering
El Niño adalah anomali pemanasan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian timur-tengah. Normalnya air hangat ada di Pasifik Barat dekat Indonesia sehingga penguapan tinggi dan hujan lebat.
Saat El Niño, air hangat bergeser ke Pasifik Timur. Akibatnya air laut di sekitar Kalimantan menjadi lebih dingin, penguapan berkurang, dan angin pembawa uap air tertarik ke tengah Pasifik.
Di atas Kalimantan muncul udara kering yang turun dan menekan pembentukan awan. Curah hujan turun drastis selama 3-6 bulan puncak kemarau.
Satu siklus El Niño berlangsung 9-12 bulan. Mulai tumbuh Juni-Agustus, mencapai puncak Oktober-Desember, lalu melemah Januari-Maret tahun berikutnya.
Di Kalimantan dampak paling terasa Juli-Oktober karena bertepatan dengan musim kemarau alamiah. Kejadian berulang setiap 3-7 tahun.
Mengapa dulu jarang terbakar dan sekarang jadi langganan? Ada empat penjelas.
Pertama, hutan sudah berkurang dan tidak lagi mampu menyimpan air. Tahun 2000 luas hutan Kalimantan ±44 juta ha, tahun 2023 tersisa ±22,5 - 24 juta ha. Lahan sawit, HTI, dan gambut yang dikeringkan jadi sangat mudah kering hanya dalam 2-3 minggu tanpa hujan.
Kedua, banyak bahan bakar dan koridor api. Data FWI 2018 mencatat deforestasi >2 juta ha periode 2013-2017. 90% hotspot karhutla 2015 dan 2019 berada di dalam konsesi sawit, HTI, dan lahan gambut.
Kanal drainase di gambut membuat gambut kering dan bisa terbakar hingga kedalaman 1 meter selama berminggu-minggu.
Ketiga, iklim semakin panas. Laporan IPCC AR6 2021 menyatakan pemanasan global plus El Niño meningkatkan suhu dan kekeringan di Asia Tenggara. Suhu 36-38°C membuat vegetasi lebih cepat kering sehingga titik nyala api lebih rendah.
Keempat, kearifan lokal terdesak. Alih fungsi lahan membuat lahan adat menyempit dan waktu bera dipendekkan sehingga peladang terpaksa membuka lahan saat kondisi lebih kering.
Kesimpulannya sederhana. El Niño adalah pemicu alami kemarau panjang. Tapi besarnya kebakaran ditentukan oleh kondisi lahan. Dulu El Niño datang ke hutan basah.
Sekarang El Niño datang ke lanskap yang sudah kering, terfragmentasi, dan banyak gambut yang dikeringkan. Itu sebabnya kebakaran 2015 dan 2023 jauh lebih luas dari El Niño 1982/1983 padahal kekuatannya mirip.
Dilema peladang tebas-bakar antara hidup dan bara
Di Kalimantan, berladang tebas bakar bukan budaya merusak. Ini adalah sistem pertanian gilir balik yang sudah berjalan ratusan tahun. Satu keluarga peladang membuka lahan 0,5 sampai 2 ha per tahun di lahan milik adat atau ulayat.
Setelah 1-2 kali tanam padi ladang, sayur, dan palawija, lahan ditinggalkan 5 sampai 10 tahun untuk dipulihkan oleh hutan sekunder.
Estimasi berdasarkan data AMAN dan KLHK, ada sekitar 700.000 sampai 1 juta kepala keluarga masyarakat adat dan lokal di Kalimantan yang masih menggantungkan hidup dari ladang. Dengan asumsi 1 KK adalah 5 orang, maka ada 3,5 juta sampai 5 juta jiwa yang secara langsung bergantung pada sistem tebas bakar ini.
Mereka tidak punya modal untuk pupuk kimia atau traktor. Api adalah satu-satunya cara murah dan cepat untuk membersihkan lahan, mengembalikan unsur hara dari abu, dan mengendalikan hama.
Peladang punya kearifan lokal untuk mencegah api lari. Mereka membuat sekat bakar berupa parit atau jalur tanpa bahan bakar selebar 2-5 meter, pembakaran diatur pada sore hari saat kelembaban tinggi, angin tenang, dan ada regu jaga.
Sejak karhutla besar 1983 dan 1997, pemerintah menerbitkan aturan yang melarang pembakaran lahan dengan ancaman pidana. UU No 32 Tahun 2009 dan PP No 45 Tahun 2004 sering digunakan untuk menjerat peladang.
Kasus nyata di Kalbar dan Kalteng ada peladang yang dipenjara 1-3 tahun karena membakar 0,5 ha untuk makan. Padahal kebakaran besar justru 90% berasal dari kelalaian perusahaan di lahan gambut yang dikeringkan.
Ini menimbulkan dilema keadilan. Di satu sisi negara wajib mencegah karhutla yang merugikan triliunan rupiah dan menyebabkan ISPA. Di sisi lain, peladang tidak diberi pilihan lain.
Berapa lahan yang dibutuhkan masyarakat untuk berladang? Dengan sistem gilir balik 1 banding 7, artinya 1 ha ditanam dan 7 ha diistirahatkan. Jika 1 KK butuh 1 ha untuk ditanam tiap tahun, maka 1 KK butuh menguasai 7-8 ha secara bergilir.
Untuk 700.000 KK, kebutuhan lahan aktif per tahun sekitar 350.000 sampai 1,4 juta ha. Kebutuhan total lahan dalam sistem gilir balik adalah 2,4 juta sampai 5,6 juta ha.
Ini jauh lebih kecil dibanding luas sawit 6,8 juta ha atau HTI 3 juta ha di Kalimantan. Masalahnya bukan luasnya, tapi tumpang tindih. Banyak lahan adat sudah masuk konsesi perusahaan, sehingga peladang terdesak ke tepi hutan dan waktu bera menjadi lebih pendek.
Solusinya bukan melarang tanpa memberi alternatif.
Ada tiga langkah yang jauh lebih murah dan manusiawi:
Pertama, alihkan sebagian dana pencegahan karhutla untuk menyediakan peralatan pertanian non-bakar ke kelompok tani. Teknik chopping atau cacah bisa menggantikan fungsi abu tanpa api. Harga 1 mesin pencacah Rp 15 juta bisa dipakai 50 KK. Ini jauh lebih murah dari biaya pemadaman 1 ha gambut terbakar yang bisa Rp 50 juta.
Kedua, laksanakan Sekolah Lapang Iklim yang melibatkan penyuluh dan pemangku adat untuk melatih teknik tanpa bakar, tanam cover crop kacang-kacangan untuk pupuk hijau, pembuatan pupuk organik dari abu sekam, dan sistem agroforestri.
Di Kapuas Hulu, gabungan ladang plus karet plus buah sudah membuat petani tidak perlu bakar tiap tahun.
Ketiga, tegakkan hukum berkeadilan. Bedakan antara peladang subsisten 1 ha dengan perusahaan yang membakar 1000 ha. Fokuskan penegakan pada korporasi dan pelaku pembakaran di lahan gambut. Untuk peladang, gunakan pendekatan restoratif berupa wajib kerja membuat sekat bakar dan menanam, bukan penjara.
Peladang tebas bakar bukan musuh hutan. Mereka adalah penjaga hutan paling depan yang hidupnya bergantung pada hutan tetap ada.
Ini yang harus kita pilih
Sebelum 1980-an, Kalimantan tidak mengalami kebakaran skala luas seperti sesudahnya sampai sekarang. Kita telah kehilangan kemampuan menahan air, kemampuan menyerap karbon, dan kemampuan memproduksi oksigen dalam jumlah raksasa.
Selama kita terus mengubah hutan penyimpan air menjadi lanskap penguras air, maka setiap El Niño, bahkan yang lemah sekalipun, akan selalu menjadi bencana asap. Solusinya bukan zero burning secara mutlak, tapi zero burning yang tidak terkendali.
Dengan mengakui hak kelola, memberi teknologi murah, dan menegakkan hukum secara adil, maka api bisa tetap menjadi alat peladang, bukan menjadi bencana nasional.
Pertanyaannya sekarang, apakah kita akan terus memadamkan api di musim kemarau, atau mulai mengembalikan spons yang menahannya?
Referensi
AMAN dan KLHK. 2020. Data dan Informasi Masyarakat Hukum Adat.
BMKG. 2023. Buku Informasi El Niño dan Dampaknya di Indonesia.
Bruijnzeel, L.A. 2004. Hydrological functions of tropical forests. Agriculture, Ecosystems and Environment 104(1).
CIFOR & BRG. 2019. Kajian Kebakaran Lahan Gambut di Kalimantan.
Forest Watch Indonesia. 2018. Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode 2013-2017.
Gaveau, D.L.A. et al. 2016. Rapid Conversions and avoided deforestation in Borneo. Scientific Reports 6:32017.
Hirano, T. et al. 2015. Evapotranspiration of tropical peat swamp forests. Global Change Biology.
IPCC. 2021. Climate Change 2021: The Physical Science Basis. AR6.
KLHK. 2023. Statistik Kehutanan Indonesia 2023.
Makarieva, A.M. & Gorshkov, V.G. 2007. Biotic pump of atmospheric moisture as driver of the hydrological cycle. Atmos. Chem. Phys. 7.
Spracklen, D.V. et al. 2012. Observations of increased tropical rainfall preceded by air passage over forests. Nature 489.
van der Ent, R.J. & Savenije, H.H.G. 2014. Length and time scales of atmospheric moisture recycling.
WALHI. 2023. Laporan Kondisi Lingkungan Kalimantan Tengah dan Selatan.

Komentar
Posting Komentar