Kata Presiden "Sawit adalah Pohon, Bukan Deforestasi": Benar atau Ngawur?
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa kelapa sawit adalah pohon sehingga ekspansi kebun sawit bukan deforestasi telah memicu perdebatan luas. Pernyataan tersebut terekam jelas dalam video dan transkrip resmi negara, sehingga penting untuk dibedah secara ilmiah agar tidak menjadi pembenaran kebijakan yang menyesatkan dan merusak.
Walaupun pernyataan itu sudaah lama dilontarkan, videonya masih beredar dan dibicarakan di medsos. Jadi saya anggap masih sangat relevan untuk memberika penjernihan.

Ilustrasi (AI)
Pernyataan Presiden itu

Pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) RPJMN Tahun 2025-2029 di Kantor Bappenas, Jakarta, pada Senin, 30 Desember 2024, Presiden Prabowo berkata:
"Dan saya kira ke
depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit, enggak usah takut
membahayakan, apa itu deforestation, iya kan," (Kompas TV, 30 Desember 2024).
Ia melanjutkan dengan logika botani sederhana:
"Namanya kelapa sawit ya pohon, kelapa sawit itu pohon ada daunnya,"
(Kompas TV, 30 Desember 2024).
Dalam transkrip resmi Sekretariat Negara versi
yang lebih lengkap tertulis: "Namanya kelapa sawit, ya pohon, iya kan?
Kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Ya dia menyerap karbon dioksida, dari
mana kalau kita dituduh" (Sekretariat Negara, 2024).
Video dengan judul "Prabowo Minta Kebun
Kelapa Sawit di Indonesia Ditambah: Tak Perlu Takut Deforestasi" tersebut
kemudian diunggah Kompas TV Sukabumi dan menyebar masif di media sosial, mulai
dari grafis MOJOK yang mengutip "KITA HARUS TAMBAH TANAM KELAPA SAWIT,
NGGAK USAH TAKUT DEFORESTATION" hingga video drone di Aceh Utara yang
menampilkan lahan gundul berlumpur dengan audio pidato tersebut sebagai latar.
Secara botani, pernyataan itu tidak salah,
sawit memang memiliki batang dan daun. Namun secara ekologi, pernyataan itu
keliru total. Menyamakan pohon sawit dengan hutan adalah seperti menyamakan
batu bata dengan istana. Hutan bukan kumpulan pohon, melainkan sebuah sistem.
Mari kita luruskan.
Apa itu deforestasi?
Definisi internasional sangat jelas. Menurut
definisi yang digunakan FAO Global Forest Resources Assessment, deforestation
is "the conversion of forest to other land use independently of whether
human-induced or not" (FAO, 2020).
FAO juga menjelaskan lebih operasional:
deforestation is the conversion of forested areas to nonforest land use such as
arable land, urban use, logged area or wasteland (FAO, 2020).
Artinya, mengubah hutan alam yang
keanekaragaman tinggi menjadi perkebunan monokultur, baik itu sawit, karet,
atau akasia, tetap dikategorikan sebagai deforestasi.
Perkebunan tidak pernah dihitung sebagai hutan dalam statistik FRA FAO. Jadi secara hukum definisi global, membabat hutan untuk sawit adalah deforestasi, bukan reforestasi.
Mari kita bedah perbandingan antara hutan dan kebun sawit secara lebih mendalam.
Pertama, stok karbon 500 ton vs. 50 ton
Pertama, Stok Karbon Tinggi versus Stok Karbon
Rendah. Hutan alam menyimpan karbon dalam biomasa & tanah. Ini adalah poin
yang paling krusial. Hutan tropis primer menyimpan karbon di tiga gudang:
batang dan tajuk, nekromassa (biomssa mati) dan serasah di permukaan, serta
akar dan tanah gambut di bawah permukaan.
![]() |
| Hutan alam vs. kebun sawit |
Data CIFOR-ICRAF menunjukkan perkebunan kelapa
sawit menonjol dalam bentang alam, tetapi mencakup kurang dari 1% cadangan
karbon total (CIFOR, 2020).
Angka spesifiknya lebih mengejutkan:
perkebunan kelapa sawit menyimpan sekitar 50 ton karbon per hektar (CIFOR,
2020). Koordinator CIFOR Herry Purnomo menggambarkan bahwa dalam setahun,
setiap hektare perkebunan sawit hanya bisa menyimpan karbon sebesar 40-80 ton.
Jauh lebih banyak dari itu, cadangan karbon hutan mencapai 300 – 500 ton per
hektare (CIFOR, 2024).
Artinya, ketika hutan dibabat, 80 hingga 90
persen stok karbon hilang seketika melalui pembakaran dan dekomposisi.
Sawit yang ditanam kemudian butuh 25 tahun
untuk menyimpan 40 ton, tidak pernah bisa menutup utang karbon yang tercipta.
Penelitian CIFOR juga menemukan bahwa hutang karbon terjadi pada 91 persen dari
jumlah perkebunan yang dikaji ketika hutan dikonversi ke sawit (CIFOR, 2020).
Klaim bahwa sawit menyerap karbondioksida karena ada daunnya memang benar secara fotosintesis daun, tetapi salah secara neraca karbon ekosistem.
Kedua, tata air seimbang vs. gangguan tata air
Hutan menjaga aliran sungai dan mencegah banjir, sementara perkebunan
sawit menunjukkan risiko banjir dan kekeringan.
Hutan bekerja seperti spons raksasa. Tajuk
berlapis, epifit, serasah setebal 10-15 cm, dan jaringan akar dalam membuat air
hujan tertahan, meresap perlahan, dan dilepas bertahap di musim kemarau.
Epifit adalah tumbuhan yang numpang hidup di atas pohon, tapi bukan parasit.
Contohnya, anggrek hutan, paku-pakuan yang nempel di
batang, lumut dan tanduk rusa, serta sirih-sirihan
hutan.
Di hutan alam, epifit ini ada jutaan di satu pohon. Mereka itu seperti
spons kecil yang menggantung.
Satu pohon besar bisa menampung berton-ton epifit, dan epifit itu
menahan air hujan, menyerap kabut, lalu meneteskan pelan-pelan ke bawah. Itulah
kenapa hutan bisa menjaga tata air seimbang dan suhu sejuk, udara lembab.
Di kebun sawit monokultur? Tidak ada epifit. Batang sawit dibersihkan, disemprot, supaya bersih. Jadi fungsi spons alami itu hilang total.
Kebun sawit monokultur dengan jarak 9x9 meter,
tanpa tajuk bawah dan tanpa serasah, membuat air hujan langsung menghantam
tanah mineral yang telah memadat akibat alat berat.
Akar sawit yang dangkal, hanya 0-1 meter, tidak mampu menahan air. Hasilnya adalah banjir di hilir saat hujan dan sumur kering di musim kemarau. Ini bukan teori, ini keluhan nyata warga di sekitar konsesi yang videonya viral di komentar Kompas TV.
Ketiga, biodiversitas kaya vs. biodiversitas minim
Hutan alam dengan keanekaragaman tinggi adalah
habitat satwa dan tumbuhan beragam. Satu hektar hutan di Kalimantan bisa berisi
lebih dari 200 spesies pohon.
Kebun sawit adalah monokultur, biodiversitas minim, satwa hilang, habitat rusak. Survei ekologis menunjukkan penurunan keanekaragaman burung hingga 90 persen dan mamalia hingga 80 persen setelah konversi. Orangutan, bekantan, dan rangkong (enggang) tidak akan pernah bisa hidup di kebun sawit kanan. Mereka butuh struktur hutan, bukan barisan pohon sawit.
Keempat, stabilkan mikroklimat versus iklim terganggu
Hutan menciptakan suhu sejuk dan udara lembab
melalui evapotranspirasi. Data satelit menunjukkan suhu permukaan lahan sawit
bisa 6-8 derajat lebih panas dari hutan di sebelahnya pada siang hari.
Hutan menghasilkan hujan sendiri melalui daur ulang uap air. Ketika hutan hilang dalam skala luas, curah hujan regional turun dan cuaca ekstrem meningkat. Sawit menciptakan suhu tinggi dan udara kering, persis seperti di infografik.
Kelima, tanah subur dan hidup vs. tanah mati dan asam
Hutan membangun tanah. Gugur daun, pelapukan,
dan aktivitas mikroba membangun tanah kaya organik, dibentuk hutan selama
ribuan tahun. Sawit menguras tanah. Monokultur sawit membutuhkan pupuk kimia
NPK dan pestisida dalam dosis masif.
Setelah dua hingga tiga siklus tanam 25 tahun,
tanah menjadi asam, padat, dan mati secara biologis.
Penelitian Anhar (2013) yang dikutip CIFOR
memperlihatkan rata-rata jumlah karbon yang tersimpan di bawah permukaan lahan
gambut Tripa adalah 724 – 1625 ton, yang hilang ketika gambut dikeringkan untuk
sawit (CIFOR, 2020).
Tanah terdegradasi ini kemudian ditinggalkan dan tidak bisa kembali menjadi hutan tanpa restorasi mahal puluhan tahun.
Keenam, bebas asap vs. rawan kebakaran dan asap
Lahan gambut yang dikeringkan untuk sawit
adalah bom asap. Poin ini sering dilupakan. Ketika kering, gambut mudah
terbakar dan sulit dipadamkan, membakar hingga kedalaman 50 cm di bawah
permukaan.
Laporan CIFOR mencatat 3.300 ton karbon per
hektar tersimpan dalam area lahan gambut pesisir Indonesia, hingga separuhnya
dilepaskan ke atmosfer selama 100 tahun menyusul konversi ke perkebunan sawit
(CIFOR, 2020).
Inilah yang menyebabkan kabut asap tahunan lintas batas yang sampai membuat sekolah di Malaysia tutup dan penerbangan batal, sebuah biaya kesehatan publik yang tidak pernah masuk dalam hitungan ekonomi sawit.
Ketujuh, sumber kehidupan masyarakat vs. konflik dan kehilangan
Kemudian ada realitas sosial. Hutan adalah
sumber pangan, obat, dan budaya adat terjaga. Rotan, madu, ikan sungai, dan
obat-obatan adalah ekonomi harian masyarakat adat. Ketika hutan hilang, mereka
kehilangan lumbung pangan.
Data konflik agraria menunjukkan sektor sawit adalah penyumbang konflik tertinggi antara perusahaan dan masyarakat adat. Spanduk protes "STOP ALIH FUNGSI HUTAN MENJADI PERKEBUNAN SAWIT" yang terekam di berita Agustus 2026 adalah bukti bahwa ekspansi bukan hanya isu daun, melainkan isu perampasan ruang hidup.
Kesimpulannya
Argumen bahwa sawit adalah pohon sehingga
bukan deforestasi adalah reductio ad absurdum (argumen yang konyol). Ganja juga pohon dan
punya daun, seperti yang disindir netizen di kolom MOJOK, tetapi memiliki daun
tidak membuat sebuah perkebunan menjadi hutan.
Mengganti hutan yang menyimpan 500 ton karbon,
mengatur air, menjadi rumah ribuan spesies, dan menjadi sumber kehidupan
masyarakat dengan perkebunan yang hanya menyimpan 50 ton karbon, membuat
banjir, gurun hijau, dan konflik adalah definisi textbook dari deforestasi.
Menyebut proses ini sebagai bukan deforestasi
adalah permainan kata yang menyesatkan publik dan berbahaya bagi masa depan
iklim Indonesia. Pernyataan ini sangat berdampak karena melunncur dari
lidah orang nomor satu.
Hanya dengan pemahaman dan cara pandang yang benar kita bisa menyelamatkan hutan Borneo yang masih tersisa.
Daftar Pustaka
Kompas TV Sukabumi. (30 Desember 2024).
Prabowo Minta Kebun Kelapa Sawit Ditambah: Tak Perlu Takut Deforestasi.
Sekretariat Negara RI. (2024). Transkrip
Arahan Presiden pada Musrenbangnas RPJMN 2025-2029.
FAO. (2020). Global Forest Resources
Assessment 2020: Deforestation is the conversion of forest to other land use.
CIFOR-ICRAF. (2020-2024). Working Paper 212,
Brief No.42, dan wawancara Herry Purnomo tentang stok karbon hutan vs sawit.

Komentar
Posting Komentar