Hotspot Belum Tentu Api: Pelajaran Pahit dari Langit Kalimantan yang Mengepul
Musim kemarau datang lagi. Sungai Mahakam,
Barito, Kapuas yang dulu gagah, kini mengering sampai bisa jadi lapangan bola.
Asap tebal menggantung di atas atap-atap rumah. Kita sudah hafal adegan ini.
Di episode terbaru The Voice of Tropical Rainforest, saya ngobrol dengan dua orang yang hidup di garis depan kebakaran.
Pak Sahar Alhaq, Ketua UPTD KPHP Telake di Kabupaten Paser dan PPU - seorang firefighter hutan sejati, dan Dr. Ibrahim, Kepala Pusat Studi dan Rehabilitasi Hutan Tropis Universitas Mulawarman.
Dari obrolan panjang itu, ada satu kalimat yang harus kita catat tebal-tebal: hotspot belum tentu api.
Satelit membaca panas, bukan api
Kita semua sekarang bisa membuka peta hotspot
di HP. Titik merah bertebaran. 123 hotspot di KPHP Telake! Panik. Padahal kata
Pak Shahar, setelah timnya cek ke lapangan, paling cuma 20 yang benar-benar api.
Kenapa? Karena satelit tidak melihat api, tapi membaca tingkat panas.
Sistemnya punya level 7, 8, dan 9. Level 7-8
bisa jadi hanya seng terbuka yang memantulkan panas matahari, atau lahan
terbuka yang memang terik. Level 9 baru biasanya benar-benar api.
Satu hamparan kebakaran luas pun bisa terbaca
sebagai lima titik hotspot yang berbeda.
Makanya prosedur baku mereka bukan langsung
siram, tapi ground check dan size-up (mengukur besarnya kebakarann). Cek dulu kondisinya.
Kalau memang api, baru hitung: berapa kekuatan
yang diturunkan, peralatan apa yang dipakai. Jangan sampai musuhnya besar, kita
cuma bawa parang.
Atau sebaliknya, api kecil kita keroyok dengan
pasukan besar, boros sumber daya.
Siapa yang melakukan ground check? Di sinilah
pahlawan sesungguhnya bekerja: MPA - Masyarakat Peduli Api.
Di setiap desa sekitar hutan di wilayah KPHP
Telake, dibentuk MPA berisi 15 orang. Lima orang urus logistik dan
administrasi, 10 lainnya jadi regu pemadam. Mereka bukan orang luar. Mereka
pemilik kebun itu sendiri.
Logikanya sederhana, kata Pak Shahar: Kalau
tanamannya dia rawat 5 tahun lalu terbakar, masak dia diam? Tanpa disuruh pun
dia pasti lari memadamkan. Kita di kota yang punya sinyal bagus hanya bantu
memberi info: "Bang, di dekat kebun si A ada hotspot, tolong cek
dulu."
Kenapa makin tahun makin parah?
Sejarah bilang kebakaran bukan barang baru.
Dr. Ibrahim mengingatkan, kebakaran di Kalimantan Timur sudah ada sejak 1.500
tahun lalu di Tanjung Mangkaliat.
Buktinya ada lapisan hitam setebal 30 cm di
profil tanah Muara Badak - bukan batu bara, tapi arang sisa kebakaran purba.
Tahun 1983, 1997/98 kita juga terbakar hebat.
Tapi kenapa sekarang terasa makin parah?
Jawabannya dua: penduduk makin padat dan
kerusakan hutan makin hebat.
Hutan primer yang masih utuh hampir tidak
mungkin terbakar. Kelembabannya tinggi, serasahnya lembab, iklim mikro di bawah
tajuknya terjaga.
Yang mudah terbakar adalah hutan yang sudah
terdegradasi, yang sering dilewati manusia untuk berkebun atau berburu. Api di
Kalimantan, 99% penyebabnya adalah manusia.
Secara ekologi, hutan sebenarnya punya daya
pulih yang luar biasa. Setelah kebakaran hebat 97/98 di area ITCI, tahun 2001
Dr. Ibrahim melihat hutan sudah menghijau lagi dengan sendirinya. Tumbuhan
pionir seperti Macaranga gigantea datang duluan, membangun kembali kanopi.
Masalahnya, sekarang setelah terbakar, yang
tumbuh bukan Macaranga. Yang tumbuh sawit. Alam tidak lagi diberi kesempatan
memulihkan dirinya sendiri.
Dan ada lingkaran setan yang mengerikan: bakar
berulang-ulang menciptakan padang alang-alang sejauh mata memandang.
Alang-alang sangat mudah terbakar.
Terbakar - tumbuh alang-alang lagi - terbakar
lagi. Inilah yang oleh ahli disebut lahan kritis: lahan yang tidak mampu
memulihkan dirinya tanpa campur tangan manusia.
Berapa harga sebuah hutan yang terbakar?
Kerugiannya tidak bisa dihitung hanya dari
kayu yang hangus. Dr. Ibrahim membaginya menjadi dua.
Yang statis bisa kita hitung: biomassa hutan
hujan tropis itu 450-500 ton per hektar. Di dalamnya ada karbon, nitrogen,
fosfor, kalium, kalsium. Ketika terbakar, semua itu menguap menjadi emisi dan
memperparah efek rumah kaca.
Kita bisa menghitungnya dengan metode
komparatif - bandingkan dengan hutan sebelahnya yang tidak terbakar, lalu
konversikan berapa pupuk yang dibutuhkan untuk memulihkannya. Satu kilogram
pupuk punya harga.
Yang dinamis jauh lebih sulit: berapa ekor
ular, biawak, serangga, cacing tanah yang mati? Berapa jamur mikoriza yang
menjaga kesuburan tanah ikut musnah?
Satu kebakaran bisa memusnahkan ekosistem
dalam beberapa jam, tapi untuk memulihkannya butuh puluhan tahun. Illegal
logging hanya menjatuhkan pohon besar. Kebakaran menghabiskan semuanya sampai
ke akar.
Mencegah jauh lebih murah dari memadamkan
Ini bagian paling pahit. Kita sebenarnya sudah
bisa meramalkan kebakaran. BMKG punya data. Kementerian punya SiPongi. Siklus
El Niño bahkan berulang setiap 5 tahun - 2019, 2024, dan sekarang. Tahun depan
diprediksi akan lebih parah lagi.
Tapi kenapa setiap tahun kita tetap kelabakan?
Pak Shahar jujur: aturannya sudah cukup,
pelaksanaannya yang tidak cukup.
Di atas kertas, semua perusahaan tambang dan
sawit wajib punya alat pemadam standar SNI. Tapi SNI yang dipakai adalah SNI
untuk kebakaran kota, bukan kebakaran hutan.
Hasilnya, mereka beli sepatu dengan besi di
depan yang beratnya minta ampun, baju tebal anti-api. Di hutan yang panas dan
medannya berat, alat itu tidak bisa dipakai.
Akhirnya petugas di lapangan memadamkan api
hanya dengan sandal jepit. Aspek hukum terpenuhi, aspek fungsi nol.
Kedua, soal koordinasi dan ego sektoral. Saat
status masih Siaga 1 dan 2, itu wewenang Kehutanan. Saat sudah masuk Tanggap
Darurat, komando beralih ke BPBD. Tapi di lapangan sering ribut soal
kewenangan, sementara apinya makin membesar.
Belum lagi ada oknum yang tidak bisa bedakan
hotspot dan firespot, lalu memaki-maki petugas di bawah.
Lalu apa solusinya? Belajar dari Sarawak,
Malaysia: prinsip 80:20. 80% anggaran untuk pencegahan, 20% untuk pemadaman.
Pencegahan yang dilakukan KPHP Telake patut
ditiru:
1. Sentuh akarnya: Edukasi Sejak Dini. Bukan dengan bahasa ilmiah yang jelimet. Pak Sahar punya analogi handuk. "Hutan itu seperti handuk di atas tanah. Kalau kita siram air - hujan - airnya netes pelan-pelan.
Kalau tidak ada handuk, tanahnya langsung habis tergerus." Kampanye ini dibawa ke SD-SMP lewat lomba melukis dan menulis: apa rasanya kalau hutan terbakar dan apa rasanya kalau tidak.
Meracuni pikiran mereka dengan kebaikan, supaya jadi budaya.
2. Beri insentif, Bukan Hanya Label Relawan. MPA selama ini disebut relawan. Relawan artinya tidak digaji. Padahal mereka meninggalkan kebun 2 hari 2 malam di garis api, sementara anak di rumah harus makan.
Kalau sewa water bombing sekali buang 6.000 liter air biayanya Rp 50 juta, kenapa uang itu tidak dipakai untuk memperbaiki APD dan memberi insentif yang layak untuk MPA? Satu MPA yang bahagia menjaga hutan jauh lebih efektif dari lima kali water bombing.
3. Tanam harapan. Program bagi bibit gratis - buah-buahan produktif - di pekarangan warga. Ketika dia punya tanaman yang bernilai ekonomi, dia pasti akan menjaga lahannya mati-matian saat kemarau datang. Pencegahan paling alami.
Di akhir obrolan, saya menutup dengan pantun:
Memadamkan api di atas bukit, seember air takkan cukup.
Merawat hutan begitu rumit, mencegah kebakaran itu lebih hidup.
Burung enggang terbang tinggi, hinggap lelah di dahan sebentar.
Biaya padamkan api begitu tinggi, lebih baik jaga jangan terbakar.
Salam lestari.



Komentar
Posting Komentar