Paru-Paru Dunia di Halaman Belakang Kita: Pelajaran dari Prof. Paulus Matius tentang Hutan Hujan Tropis

Kalau kamu lahir dan besar di Kalimantan, hutan bukan cuma pemandangan. Hutan adalah rumah, supermarket, apotek, dan sekolah pertama.

Prof. Paulus Matius dalam program
The Voice of Tropical Rainforest
Itulah yang diceritakan Prof. Emeritus Dr. Paulus Matius dalam program The Voice of Tropical Rainforest oleh Pusat Studi dan Rehabilitasi Hutan Tropis (Pusrehut) Universitas Mulawarman. 

Masa kecilnya tidak dihabiskan di depan layar, tapi di dalam rimbunnya hutan hujan tropis. Berinteraksi langsung dengan burung, monyet, serangga, dan pohon-pohon raksasa. 

Dari situlah rasa cinta dan pemahaman mendalam tentang hutan tumbuh. Sebuah hubungan yang hari ini makin langka, padahal justru paling kita butuhkan.

Prof. Emeritus Dr. Paulus Matius - The Voice of Tropical Rainforest, Pusrehut Unmul (Sumber: YouTube)

Kita sering dengar istilah "paru-paru dunia", tapi apa sih sebenarnya yang membuat hutan hujan tropis kita begitu vital? Mari kita bedah dengan bahasa yang lebih membumi.

Bukan Cuma Hutan Biasa

Banyak yang mengira semua hutan itu sama. Padahal hutan hujan tropis itu sangat berbeda dari hutan musim yang ada di Eropa atau Amerika.

Ciri utamanya satu: hujan. Selalu hujan. Tidak ada musim kemarau yang panjang dan kering. 

Kelembapan selalu tinggi, suhu stabil sepanjang tahun. Kondisi inilah yang membuat hutan hujan tropis terletak di sabuk khatulistiwa - seperti di Asia Tenggara, Amazon di Brazil, dan Afrika Tengah.

Karena air dan matahari selalu ada 365 hari setahun, hutan ini tidak pernah "tidur". Inilah pembeda utamanya.

Satu Hektar Bisa Lebih Ramai dari Satu Kota

Di Kalimantan, dalam satu hektar hutan saja bisa terdapat lebih dari 100 hingga 200 jenis pohon yang berbeda. Bandingkan dengan hutan di daerah sub-tropis yang mungkin hanya didominasi 2-3 jenis pohon saja.

Kenapa bisa seramai itu? Karena hutan hujan tropis punya struktur seperti apartemen super mewah bertingkat.

Ada 5 lapisannya:

  1. Lapisan Emergen: Pohon-pohon raksasa yang menjulang hingga 50-60 meter, menyembul di atas kanopi seperti penjaga.
  2. Kanopi: Atap hutan yang rapat. Di sinilah sebagian besar kehidupan terjadi. Cabang-cabang saling bertautan.
  3. Lapisan Bawah Kanopi: Tempat pohon-pohon muda menunggu giliran mendapat cahaya.
  4. Lapisan Semak: Semak belukar dan pohon-pohon kecil.
  5. Lantai Hutan: Lantai yang gelap, lembap, ditutupi serasah daun, lumut, jamur, dan tumbuhan herba.

Setiap lapisan adalah niche, atau rumah, bagi makhluk yang berbeda. Tumbuhan herba menjadi karpet pelindung tanah. Lumut dan alga melindungi batang pohon. Burung rangkong hidup di kanopi, sementara orangutan berpindah di antara lapisan. 

Keanekaragaman tumbuhan secara otomatis menciptakan keanekaragaman hewan. Satu hilang, yang lain ikut goyah. Semuanya saling mengunci.

Kenapa Disebut Paru-Paru Bumi yang Sesungguhnya?

Kita sering menganggap hutan di mana saja sama-sama menghasilkan oksigen. Faktanya tidak.

Hutan musim di negara empat musim hanya berfotosintesis optimal saat musim semi dan panas. Saat musim gugur dan dingin, daun rontok, fotosintesis berhenti.

Hutan hujan tropis? Hutan ini bekerja tanpa cuti. Siang dan malam, sepanjang tahun, menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. 

Itulah kenapa hutan Kalimantan disebut paru-paru dunia yang paling jujur. Hutan hujan tropis tidak pernah mogok.

Inilah alasan kenapa negara-negara Barat rela investasi triliunan rupiah untuk membeli kredit karbon dari hutan tropis kita. Mereka sadar betul: kalau paru-paru ini rusak, sesak napasnya akan terasa sampai ke Eropa dan Amerika.

Ketika Hutan Diubah Jadi Kebun

Di sinilah dilema besar yang disoroti Prof. Paulus. Nilai ekonomi hutan sering kali dilihat hanya dari kayunya atau dari lahannya jika diubah menjadi perkebunan sawit atau tambang.

Padahal konversi itu biayanya mahal sekali.

Pertama, kita kehilangan keanekaragaman hayati yang tidak bisa diciptakan kembali. Satu jenis pohon hilang, bisa jadi 20 jenis serangga, 5 jenis burung, dan 2 jenis mamalia yang bergantung padanya ikut punah.

Kedua, kita kehilangan apotek dan budaya. Banyak tanaman hutan yang menjadi bahan utama ritual adat Dayak dan sumber obat tradisional. Ketika hutan hilang, bukan hanya pohon yang hilang, tapi juga pengetahuan dan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.

Ketiga, fungsi ekologisnya runtuh. Hutan hujan tropis adalah spons raksasa. Akarnya yang dalam dan serasah yang tebal menahan air hujan. 

Tanpa hutan, air langsung mengalir ke sungai, menyebabkan banjir besar di musim hujan dan kekeringan parah di musim kemarau. 

Hutan juga adalah penahan laju pemanasan global. Tanpa kemampuan menyerap karbonnya, suhu bumi akan naik jauh lebih cepat.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Melestarikan hutan bukan berarti tidak boleh memanfaatkannya sama sekali. Prof. Paulus mengajak kita mengubah cara pandang: dari eksploitasi menjadi pengelolaan bijaksana.

Hutan bisa memberikan hasil tanpa harus ditebang habis. Hasil hutan bukan kayu seperti madu hutan, buah-buahan, rotan, tanaman obat, hingga jasa ekowisata justru bisa memberi pendapatan jangka panjang yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat lokal dibanding uang cepat dari menebang.

Tugas kita yang hidup di era digital ini adalah menjadi penjembatan.

Ceritakan kembali cerita hutan. Jika kamu ke hutan, jangan hanya foto untuk Instagram, tapi pahami ceritanya. Dukung produk-produk dari pengelolaan hutan lestari. 

Dan yang paling penting, sadari bahwa hutan Kalimantan ini bukan hanya milik orang Kalimantan. Hutan ini adalah titipan untuk seluruh dunia, yang kebetulan ada di halaman belakang kita.

Seperti yang dipelajari Prof. Paulus sejak kecil, kamu tidak akan pernah bisa mencintai sesuatu yang tidak kamu kenal. Maka, mari kita kenali lagi hutan kita, sebelum ia hanya tinggal cerita di transkrip video. (MN)

Komentar

Postingan Populer