Nyamplung: Mencari Titik Temu antara Ekonomi dan Ekologi di Kalimantan

Selama ini, pembicaraan tentang energi terbarukan sering kali berhenti pada pertanyaan tentang teknologi: sumber energinya apa, berapa besar produksinya, dan apakah mampu menggantikan energi fosil? 

Namun, untuk Indonesia (terutama Kalimantan) pertanyaannya jauh lebih kompleks. Energi terbarukan juga harus menjawab persoalan lahan kritis, ketahanan ekonomi masyarakat, biodiversitas, dan masa depan wilayah pascatambang.

Di titik inilah tanaman nyamplung menarik perhatian.

Dalam sebuah episode The Voice of Tropical Rainforest yang diselenggarakan Pusat Studi dan Rehabilitasi Hutan Tropis (Pusrehut) Universitas Mulawarman, tiga perspektif bertemu: 

  • riset dan teknologi yang disampaikan Prof. Dr. Budi Laksono dari BRIN, 
  • pengalaman pengembangan bioenergi dan restorasi lanskap dari Dr. Himlal Baral dari CIFOR, serta perspektif ekologis 
  • dan pembangunan lokal dari Dr. Ibrahim, Kepala Pusrehut Universitas Mulawarman. 

Percakapan mereka menunjukkan bahwa nyamplung bukan sekadar tanaman penghasil minyak. Ia berpotensi menjadi jembatan antara kepentingan ekonomi dan ekologis.

Tanaman lama dengan peluang baru

Nyamplung bukan tanaman asing bagi Indonesia. Menurut Prof. Budi Laksono, nyamplung merupakan tanaman asli Indonesia yang tersebar dari Sumatera hingga Papua. 

Nama latinnya adalah Calophyllum inophyllum. Tanaman ini telah lama dikenal masyarakat, bahkan memiliki sejarah pemanfaatan sejak masa lampau.

Dalam penelitian yang dilakukan sejak sekitar 2008, nyamplung mulai dilihat bukan hanya sebagai tanaman pesisir atau tanaman pelindung, tetapi sebagai sumber bahan baku energi terbarukan.

Daya tarik utamanya terletak pada bijinya. 

Kandungan minyak biji nyamplung dari populasi hutan alam disebut dapat mencapai sekitar 58 persen. Melalui seleksi dan perbaikan bahan tanaman, angka tersebut dapat ditingkatkan hingga sekitar 74 persen dengan mesin screw expeller, bahkan mencapai sekitar 84 persen melalui metode solvent extraction.

Minyak tersebut dapat diproses menjadi berbagai jenis bahan bakar, antara lain biodiesel, biokerosin, bioavtur, dan bahkan sedang dikembangkan menuju biogasolin.

Yang menarik, nyamplung termasuk tanaman non-edible. Artinya, minyaknya bukan minyak pangan. 

Ini menjadi keunggulan penting ketika dunia sedang mencari bahan baku bioenergi tanpa menciptakan kompetisi langsung dengan kebutuhan pangan.

Bukan hanya soal energi

Jika nyamplung hanya menghasilkan minyak, mungkin daya tariknya tidak terlalu istimewa. Namun, tanaman ini menawarkan jauh lebih banyak.

Nyamplung merupakan tanaman evergreen dengan tajuk relatif lebar dan rapat. Habitat alaminya banyak ditemukan di kawasan pantai sehingga memiliki toleransi terhadap angin laut dan salinitas. 

Sistem perakarannya yang dalam juga memberikan manfaat ekologis, termasuk dalam konservasi tanah dan tata air.

Karena itu, nyamplung berpotensi digunakan untuk rehabilitasi lahan kritis, kawasan pesisir, dan lanskap terdegradasi.

Dr. Himlal Baral menambahkan satu aspek penting: nyamplung dapat tumbuh di lahan marginal dan terdegradasi. 

Dengan demikian, pengembangan bioenergi tidak harus dilakukan dengan membuka hutan atau mengambil lahan produktif untuk pangan.

Inilah yang membuat konsepnya menarik: memproduksi energi sekaligus memulihkan lahan.

Nyamplung juga tidak harus ditanam sebagai monokultur. Dalam sistem agroforestri, tanaman ini dapat dikombinasikan dengan tanaman pangan atau tanaman lainnya. 

Dengan pendekatan tersebut, satu lanskap dapat menghasilkan pangan, energi, madu, kayu, dan jasa ekosistem secara bersamaan.

Tiga tahun sudah mulai berbuah

Salah satu pertanyaan penting dalam pengembangan tanaman energi adalah: berapa lama masyarakat harus menunggu sebelum memperoleh hasil?

Nyamplung memberikan jawaban yang cukup menarik.

Menurut pengalaman penelitian yang dibahas dalam podcast, nyamplung dapat mulai berbunga dan berbuah sejak sekitar tiga tahun. 

Kondisi lingkungan sangat menentukan. Di beberapa lokasi bahkan ditemukan tanaman yang mulai berbuah lebih cepat, sementara pada lahan gambut yang lebih masam produksinya membutuhkan waktu lebih lama.

Di Tahura Bukit Soeharto, Kalimantan Timur, misalnya, nyamplung mulai belajar berbuah sekitar dua setengah tahun dan menghasilkan buah lebih lebat sekitar tiga setengah tahun.

Keunggulan lainnya adalah produksi tidak hanya datang dari buah. Bunganya dapat mendukung produksi madu. 

Dengan demikian, masyarakat tidak harus menunggu puluhan tahun sampai pohon ditebang untuk memperoleh pendapatan.

Pola ekonominya menjadi lebih menarik: bunga menghasilkan madu, buah menghasilkan minyak, dan ketika pohon sudah tua, kayunya juga dapat dimanfaatkan.

Dari lahan pascatambang menjadi sumber ekonomi baru

Di Kalimantan Timur, gagasan ini menjadi semakin relevan karena persoalan lahan pascatambang terus menjadi tantangan.

Dr. Ibrahim melihat nyamplung sebagai salah satu jenis tanaman yang berpotensi dikembangkan pada lahan pascatambang. Bagi beliau, rehabilitasi tidak cukup hanya menghasilkan tutupan hijau. 

Tanaman yang digunakan idealnya juga mampu melakukan regenerasi secara alami dan memberikan nilai ekonomi.

Nyamplung memiliki karakter tersebut. Ia menghasilkan banyak buah, berbunga, dan dapat mendukung regenerasi melalui biji.

Lebih jauh lagi, pengembangan nyamplung dapat menciptakan rantai pekerjaan baru.

Pekerja yang sebelumnya bekerja di sektor pertambangan dapat beralih menjadi pekerja pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan, hingga distribusi produk. 

Dengan kata lain, transisi energi tidak hanya berbicara tentang mengganti sumber energi, tetapi juga tentang mengganti sumber penghidupan.

Dari sinilah muncul gagasan menarik: daripada sekadar meninggalkan kawasan pascatambang sebagai beban ekologis, mengapa tidak menjadikannya basis ekonomi baru yang berbasis restorasi?

Semua bagian tanaman dapat bernilai

Keunggulan lain nyamplung adalah potensinya dalam ekonomi sirkular.

Dalam proses pengolahan minyak, cangkang biji dapat dimanfaatkan menjadi briket, pelet, biochar, atau produk lain. Bungkilnya dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak karena kandungan proteinnya relatif tinggi. Resin dan komponen lainnya juga berpotensi dikembangkan untuk produk kosmetik dan obat-obatan.

Bahkan, dari proses pengolahan cangkang dapat dihasilkan asap cair yang memiliki berbagai kegunaan.

Konsepnya sederhana: jangan sampai industri bioenergi hanya memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain dengan menghasilkan limbah baru.

Semakin banyak bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan, semakin besar pula nilai tambah yang bisa diciptakan.

Di sinilah konsep zero waste atau ekonomi sirkular menjadi penting. Produk utama mungkin berupa bahan bakar, tetapi produk sampingnya dapat menciptakan industri lain dengan nilai ekonomi berbeda.

Pasar kosmetik mungkin lebih menarik daripada energi

Ada paradoks menarik dalam pemanfaatan nyamplung. Produk yang paling besar volumenya belum tentu memberikan nilai ekonomi tertinggi.

Minyak nyamplung atau tamanu oil telah dikenal dalam industri kosmetik. Produk turunannya dapat digunakan untuk berbagai keperluan perawatan kulit. 

Dalam diskusi tersebut dijelaskan bahwa komponen resin nyamplung memiliki potensi untuk produk kosmetik dan farmasi.

Prof. Budi menggambarkan pemanfaatan nyamplung seperti sebuah piramida. Produk farmasi berada di bagian atas dengan volume pasar lebih kecil tetapi nilai sangat tinggi. 

Kosmetik berada di bawahnya. Energi berada pada bagian yang lebih luas karena kebutuhannya sangat besar, tetapi harga per satuan harus relatif terjangkau.

Artinya, satu tanaman dapat melayani beberapa pasar sekaligus.

Bagi masyarakat, hal ini membuka peluang usaha skala kecil. Pengolahan minyak tidak selalu harus menunggu pembangunan pabrik besar. 

Teknologi sederhana seperti mesin ulir dapat digunakan untuk mengekstraksi minyak, sehingga peluang home industry, BUMDes, koperasi, atau kelompok usaha masyarakat terbuka.

Apakah nyamplung akan menggantikan sawit?

Pertanyaan ini hampir pasti muncul ketika membicarakan bioenergi di Indonesia.

Jawaban yang diberikan dalam diskusi tersebut justru bukan menggantikan, melainkan melengkapi.

Sawit saat ini memiliki keunggulan besar karena infrastrukturnya sudah berkembang, luas perkebunannya sangat besar, dan industrinya sudah mapan. Nyamplung belum berada pada posisi tersebut.

Namun, nyamplung memiliki ceruk yang berbeda. 

Nyamplung dapat dikembangkan di lahan marginal, tidak bersaing langsung dengan pangan, merupakan tanaman asli Indonesia, dan menyediakan berbagai jasa ekosistem.

Karena itu, masa depan bioenergi Indonesia mungkin bukan memilih satu tanaman lalu meninggalkan yang lain. Yang lebih masuk akal adalah membangun portofolio tanaman energi sesuai karakteristik lanskap.

Di lahan yang sesuai untuk sawit, sawit mungkin tetap menjadi pilihan ekonomi. Di lahan kritis, pesisir, atau wilayah tertentu yang tidak ideal untuk sawit, nyamplung bisa menjadi alternatif. 

Di tempat lain, malapari, bambu, aren, atau jenis tanaman energi lainnya mungkin lebih tepat.

Prinsipnya adalah memilih tanaman yang tepat, di tempat yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dengan menghormati hak masyarakat.

Kalimantan Timur: laboratorium masa depan?

Kalimantan Timur memiliki alasan kuat untuk mengeksplorasi nyamplung lebih jauh.

Wilayah ini memiliki persoalan lahan pascatambang, kebutuhan rehabilitasi, ekspansi komoditas perkebunan, dan pada saat yang sama kebutuhan untuk menciptakan sumber ekonomi baru. 

Nyamplung berpotensi mempertemukan beberapa agenda tersebut.

Namun, potensi tidak otomatis menjadi kenyataan.

Masih diperlukan riset tentang produktivitas pada berbagai jenis tanah, pengembangan benih unggul, pola tanam, agroforestri, teknologi pengolahan, rantai pasok, pasar, keekonomian, hingga model kelembagaan masyarakat.

Yang tidak kalah penting adalah kebijakan.

Jika pemerintah hanya mewajibkan rehabilitasi tanpa memberikan insentif ekonomi, masyarakat dan perusahaan akan cenderung memilih tanaman yang paling menguntungkan secara langsung. 

Sejarah menunjukkan bahwa ketika suatu komoditas memberikan keuntungan lebih tinggi, masyarakat akan mengikutinya.

Karena itu, tantangannya bukan meminta masyarakat memilih ekologi daripada ekonomi.

Tantangannya adalah menciptakan model ekonomi yang membuat pilihan ekologis juga menjadi pilihan yang menguntungkan.

Mencari titik temu

Pada akhirnya, pelajaran terpenting dari diskusi tentang nyamplung bukan hanya bahwa tanaman ini dapat menghasilkan biodiesel.

Pelajaran yang lebih besar adalah tentang cara kita melihat pembangunan.

Selama ekonomi dan ekologi dianggap sebagai dua kepentingan yang selalu bertentangan, pilihan kita akan selalu sulit. 

Tetapi jika sebuah tanaman dapat menghasilkan energi, memulihkan lahan, menyediakan habitat bagi biodiversitas, menghasilkan madu, menyerap karbon, menciptakan lapangan kerja, dan menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, maka batas antara ekonomi dan ekologi mulai menjadi lebih cair.

Nyamplung mungkin belum menjadi komoditas energi utama Indonesia. Jalan menuju industri skala besar juga masih panjang. Tetapi potensinya cukup kuat untuk dipelajari lebih serius, terutama di wilayah seperti Kalimantan Timur.

Mungkin kita tidak perlu mencari satu tanaman yang menggantikan semua tanaman lain.

Yang kita perlukan adalah lanskap yang mampu menghasilkan ekonomi tanpa kehilangan fungsi ekologisnya.

Dan di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung di Kalimantan, nyamplung bisa menjadi salah satu tanaman yang membantu kita menemukan titik temu itu.

Komentar

Postingan Populer