Cegah Kebakaran Hutan: Zero Fire atau Manajemen Api?

Selama puluhan tahun kita hidup dengan satu doktrin sederhana: api adalah musuh hutan. Karena itu, api harus dihilangkan. Dari cara pandang inilah lahir kebijakan Zero Fire: gagasan bahwa tidak boleh ada api sedikit pun di kawasan hutan.

Di atas kertas, pendekatan ini terdengar masuk akal. Tidak ada api berarti tidak ada kebakaran.

Tetapi persoalannya, alam tidak sesederhana itu.

Dalam kondisi tertentu, upaya memadamkan semua api justru dapat membuat bahan bakar di lantai hutan terus menumpuk. Ketika kekeringan panjang datang dan api akhirnya muncul, kebakaran yang terjadi bisa jauh lebih besar dan lebih sulit dikendalikan.

Hutan bukan berarti harus bebas api

Jika semak, ilalang, ranting, dan serasah daun kering dibiarkan menumpuk selama bertahun-tahun tanpa pernah dikurangi, lantai hutan perlahan berubah menjadi gudang bahan bakar.

Semakin lama tidak terbakar, semakin banyak material kering yang tersedia untuk api.

Kemudian datang musim kemarau panjang. Sebuah percikan kecil (misalnya dari puntung rokok) dapat memicu kebakaran. Api yang awalnya hanya membakar rerumputan dan semak dapat berkembang menjadi kebakaran berintensitas tinggi, bahkan menjalar ke tajuk pohon.

Pada kondisi seperti itu, memadamkan api menjadi jauh lebih sulit. Petugas tidak lagi menghadapi api kecil yang mudah dikendalikan, melainkan kebakaran dengan panas dan intensitas yang sangat tinggi.

Fenomena semacam ini dikenal dalam literatur pengelolaan kebakaran sebagai "paradoks pemadaman": semakin lama api-api kecil ditekan, semakin banyak bahan bakar yang dapat terakumulasi, sehingga ketika kebakaran besar akhirnya terjadi, dampaknya bisa jauh lebih serius.

Pengalaman di sejumlah wilayah seperti California dan Australia menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan tidak cukup diselesaikan hanya dengan memadamkan api. Kita juga harus mengelola bahan bakarnya.

Dari Zero Fire menuju manejemen api

Lalu, apakah solusinya adalah membiarkan masyarakat membakar hutan?

Tentu bukan.

Kontrol api bukan berarti membakar hutan secara bebas. Kontrol api berarti menggunakan api secara sengaja, terbatas, terukur, dan dalam kondisi yang dapat dikendalikan. Dalam praktik pengelolaan kebakaran, pendekatan semacam ini dikenal sebagai prescribed burning atau pembakaran terkendali.

Logikanya sederhana:

Lebih baik mengurangi bahan bakar sedikit demi sedikit ketika kondisi aman, daripada membiarkannya menumpuk dan kemudian menghadapi kebakaran besar ketika kondisi sudah tidak terkendali.

Pembakaran terkendali dilakukan dengan memperhitungkan berbagai faktor: curah hujan sebelumnya, kelembapan bahan bakar, kecepatan dan arah angin, kondisi vegetasi, topografi, serta risiko terhadap permukiman dan kawasan penting lainnya.

Area yang dibakar pun tidak harus luas. Tujuannya bukan menghabiskan vegetasi, melainkan mengurangi akumulasi bahan bakar di lokasi-lokasi tertentu.

Dengan cara itu, kita dapat menciptakan semacam jaringan penghambat api. Ketika kebakaran liar datang, intensitasnya dapat berkurang ketika memasuki area yang sebelumnya telah dikurangi bahan bakarnya.

Jadi, api tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang harus dimusnahkan. Dalam kondisi tertentu, api justru dapat menjadi alat untuk mengendalikan api.

Namun, pendekatan ini tentu membutuhkan kehati-hatian yang jauh lebih tinggi dibandingkan melarang pembakaran.

Bagaimana dengan gambut?

Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih sensitif.

Lahan gambut tidak dapat diperlakukan seperti hutan mineral biasa. Gambutnya sendiri tidak boleh dibakar. Jika api masuk dan membakar lapisan gambut, kebakaran dapat berlangsung di bawah permukaan, sulit dideteksi, sulit dipadamkan, dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Karena itu, setiap gagasan tentang pembakaran terkendali di kawasan gambut harus dibatasi secara ketat. Jika digunakan, sasarannya bukan membakar gambut, melainkan (alam kondisi dan lokasi yang secara ilmiah dinilai aman) mengurangi vegetasi atau bahan bakar kering di permukaan dengan pengawasan yang sangat ketat.

Beberapa inisiatif di lapangan telah mencoba pendekatan semacam ini dengan melibatkan masyarakat, organisasi lingkungan, dan sistem pengawasan. Tetapi pendekatan tersebut tidak boleh dijadikan pembenaran untuk membuka ruang pembakaran secara sembarangan.

Manajemen api membutuhkan pengetahuan, prosedur, pengawasan, dan tanggung jawab.

Mengapa kita sulit meninggalkan Zero Fire?

Ada setidaknya tiga alasan.

Pertama, trauma terhadap asap dan kebakaran besar.

Kebakaran dan kabut asap yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya (mis., 1997, 2015, 2019) meninggalkan pengalaman buruk yang sangat kuat. Karena itu, kata bakar dengan mudah diasosiasikan dengan kerusakan lingkungan.

Padahal kita perlu membedakan antara membakar secara terkendali untuk mengurangi risiko dan membakar secara liar yang menghasilkan kebakaran besar.

Keduanya sama-sama menggunakan api, tetapi tujuan, skala, kondisi, pengawasan, dan risikonya sangat berbeda.

Kedua, persoalan regulasi.

Kerangka hukum yang terlalu hitam-putih dapat membuat api dipandang sebagai sesuatu yang selalu ilegal dan berbahaya, tanpa membedakan antara pembakaran liar dan penggunaan api sebagai bagian dari strategi pengelolaan ekosistem.

Dalam situasi seperti ini, siapa yang berani bertanggung jawab ketika sebuah program pembakaran terkendali justru gagal?

Akibatnya, pendekatan yang paling aman secara birokratis adalah: Jangan nyalakan api sama sekali.

Masalahnya, alam tidak selalu mengikuti logika birokrasi.

Ketiga, kita belum memiliki cukup tenaga ahli.

Kontrol api bukan pekerjaan menyulut korek lalu menunggu api padam sendiri. Ia membutuhkan kemampuan membaca cuaca, kelembapan bahan bakar, arah dan kecepatan angin, kondisi vegetasi, karakteristik lahan, serta kemampuan menentukan kapan api harus dinyalakan dan kapan harus dihentikan.

Dengan kata lain, kontrol api membutuhkan ilmu dan keterampilan.

Kita mungkin salah memilih musuh

Zero Fire memiliki niat yang baik: mencegah kebakaran dan melindungi hutan.

Tetapi melarang semua api tidak otomatis berarti menghilangkan risiko kebakaran.

Analogi sederhananya begini: melarang semua orang bersin memang mungkin mengurangi suara bersin, tetapi tidak menyelesaikan persoalan penyakit.

Demikian pula dengan kebakaran.

Api adalah bagian dari banyak ekosistem. Persoalannya bukan semata-mata bagaimana membuat api menghilang, tetapi bagaimana memahami kapan api menjadi bagian dari proses ekologis dan kapan ia berubah menjadi ancaman.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.

Bukan lagi:

“Bagaimana kita menghilangkan semua api?”

Melainkan:

“Bagaimana kita memastikan api tetap berada dalam kendali?”

Di negara tropis seperti Indonesia, musim kering akan selalu datang. Pada kondisi tertentu, api pun akan selalu memiliki kemungkinan muncul.

Jika kita memahami, mengelola, dan mengendalikan api, kita dapat mengurangi bahan bakar sebelum musim kebakaran tiba.

Tetapi jika kita hanya menekan semua api kecil tanpa mengelola bahan bakarnya, kita mungkin sedang menunda masalah, bukan menyelesaikannya.

Jadi, pilihannya bukan antara api atau tidak ada api.

Pilihan sebenarnya adalah:

Api yang kita kendalikan, atau api yang dikendalikan oleh kemarau.

Ketika kita memegang kendali, api bisa kecil, terukur, dan segera berhenti.

Ketika kita kehilangan kendali, kebakaran dapat meluas dan asap dapat menutup langit selama berminggu-minggu.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap semua api sebagai musuh dan mulai belajar mengendalikannya.

Komentar

Postingan Populer