Dunia di Titik Nadir: Mengapa Perdamaian Semakin Menjauh? (Global Peace Indeks 2026)

Tahun 2026 menandai babak baru yang cukup kelam dalam sejarah modern kita. Institute for Economics & Peace (IEP) baru saja merilis edisi ke-20 dari Global Peace Index (GPI), dan hasilnya adalah sebuah peringatan keras bagi kita semua. Di tengah kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang eksponensial, peradaban manusia justru terjebak dalam pusaran konflik yang semakin kompleks dan sulit dihentikan.

Sumber: GPI 2026
Laporan tahun ini mengungkapkan bahwa tingkat kedamaian global memburuk sebesar 0,7 persen. Kedengarannya kecil? Angka ini adalah akumulasi dari penderitaan jutaan orang. Faktanya, ini adalah tahun ke-12 berturut-turut di mana kedamaian dunia mengalami penurunan. Kita menghadapi "masa sulit" sekaligus sebuah pergeseran struktural yang disebut oleh IEP sebagai "The Great Fragmentation" atau Fragmentasi Besar.

Tren Perdamaian Global: 12 Tahun Menuju Kegelapan

Jika kita menarik garis waktu selama 12 tahun terakhir (sejak 2014), trennya sangat mengkhawatirkan. Dunia saat ini jauh lebih tidak damai dibandingkan satu dekade lalu. Berikut adalah poin-poin krusial dari tren tersebut:

  1. Pusaran konflik tanpa henti: Sejak 2014, kedamaian terus memburuk setiap tahunnya. Dalam kurun waktu ini, 113 negara mengalami penurunan tingkat kedamaian, sementara hanya 49 negara yang membaik. Artinya, mayoritas penduduk bumi kini tinggal di wilayah yang lebih berbahaya dibandingkan sepuluh tahun lalu.
  2. Rekor konflik tertinggi sejak Perang Dunia II: Pada tahun 2024-2025, tercatat ada 61 konflik berbasis negara yang aktif. Ini adalah angka tertinggi sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Konflik-konflik ini tidak lagi terbatas pada dua pihak yang bertikai, melainkan telah menjadi  "internasionalisasi", di mana banyak negara luar ikut campur, memperkeruh suasana, dan memperpanjang durasi perang.
  3. Kematian akibat konflik Internal: Meskipun angka kematian mencapai puncaknya pada tahun 2023 (lebih dari 309.000 kematian), tahun lalu tetap mencatat angka kematian tertinggi kedua sejak GPI diluncurkan, dengan lebih dari 181.000 jiwa melayang. Perang saudara di Sudan dan konflik di Ukraina menjadi pendorong utama tragedi ini.
  4. Kegagalan mekanisme perdamaian tradisional: Ini adalah salah satu temuan paling mengejutkan. Di tahun 1970-an, sekitar 23 persen konflik berakhir dengan perjanjian damai. Di tahun 2010-an, angka itu merosot tajam menjadi hanya 4 persen. Perang zaman sekarang cenderung menjadi "perang abadi" (forever wars) yang berakhir dengan kebuntuan (stalemate) daripada resolusi.

Sumber: GPI 2026
10 Negara Paling Damai Tahun 2026: Benteng Terakhir Stabilitas

Di tengah badai global, masih ada negara-negara yang mampu mempertahankan harmoni. Berikut adalah 10 besar negara paling damai di dunia versi GPI 2026, beserta perbandingannya dengan posisi tahun lalu:

  1. Islandia (Skor 1.161): Tetap berada di posisi peringkat 1 selama 19 tahun berturut-turut. Islandia adalah anomali luar biasa—negara tanpa militer berdiri dengan stabilitas sosial yang tak tergoyahkan.
  2. Selandia Baru (Skor 1.343): Naik 1 peringkat dari tahun lalu. Berhasil menggeser posisi yang sebelumnya diduduki negara Eropa.
  3. Swiss (Skor 1.363): Turun 1 peringkat. Meskipun tetap sangat damai, Swiss sedikit terdampak oleh dinamika keamanan di Eropa Barat.
  4. Slovenia (Skor 1.369): Naik 2 peringkat. Slovenia kini menjadi salah satu negara paling aman dan stabil di wilayah Eropa Tengah.
  5. Irlandia (Skor 1.371): Turun 1 peringkat.
  6. Austria (Skor 1.421): Turun 1 peringkat.
  7. Portugal (Skor 1.427): Naik 1 peringkat. Tetap menjadi salah satu destinasi paling tenang di Eropa Selatan.
  8. Singapura (Skor 1.435): Turun 1 peringkat. Singapura tetap menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara di 10 besar.
  9. Finlandia (Skor 1.478): Naik 1 peringkat.
  10. Jepang (Skor 1.489): Naik 3 peringkat. Lompatan signifikan bagi Jepang yang berhasil memperbaiki domain konflik internalnya.

Analisis: Dominasi masih dipegang oleh negara-negara Eropa Barat dan Tengah. Namun, kenaikan peringkat negara seperti Jepang dan Slovenia menunjukkan bahwa kedamaian bukan hanya milik negara Skandinavia atau Alpine, melainkan hasil dari kebijakan sosial yang konsisten.

Pelajaran dari Negara Paling Damai: Mengapa Mereka Berhasil?

Apa yang bisa kita pelajari dari Islandia atau Selandia Baru? Laporan GPI 2026 memberikan beberapa wawasan kunci:

  1. Investasi pada Positive Peace: Negara-negara paling damai tidak hanya "bebas dari perang" (perdamaian negatif), tetapi memiliki institusi yang kuat, pemerintahan yang bersih, dan distribusi sumber daya yang adil (Positive Peace). Mereka memiliki tingkat korupsi yang rendah dan kebebasan informasi yang tinggi.
  2. Stabilitas sosial sebagai prioritas: Di Islandia, tingkat kriminalitas sangat rendah dan kohesi sosial sangat kuat. Perdamaian bukan hanya soal kebijakan luar negeri, tetapi soal bagaimana masyarakat saling percaya satu sama lain.
  3. Ketahanan terhadap guncangan global: Negara-negara damai cenderung memiliki ekonomi yang terdiversifikasi dan tidak bergantung pada ekspor senjata atau komoditas yang mudah bergejolak.

10 Negara Paling Tidak Damai: Episentrum Penderitaan

Di sisi lain spektrum, kita melihat negara-negara yang hancur oleh perang, instabilitas politik, dan krisis kemanusiaan. Berikut adalah 10 negara di peringkat terbawah:

  1. Rusia (Skor 3.367): Menjadi negara paling tidak damai di dunia. Invasi ke Ukraina dan pengetatan militerisasi domestik membuat skor Rusia jatuh ke titik terendah.
  2. Sudan (Skor 3.195): Menghadapi perang saudara yang brutal antara SAF dan RSF, menciptakan krisis pengungsi terbesar di dunia saat ini.
  3. Republik Demokratik Kongo (Skor 3.189): Konflik berkepanjangan di wilayah timur yang melibatkan kelompok pemberontak M23.
  4. Ukraina (Skor 3.184): Meskipun ada sedikit perbaikan skor karena stabilisasi garis depan, Ukraina tetap berada di zona sangat berbahaya akibat perang yang menghancurkan infrastruktur nasionalnya.
  5. Israel (Skor 3.124): Untuk pertama kalinya masuk ke dalam jajaran 5 terbawah. Perang di Gaza yang memasuki tahun ketiga dan konflik dengan Iran serta Hezbollah menjadi penyebab utama.
  6. Sudan Selatan (Skor 3.116): Ketidakstabilan politik dan kembalinya konflik internal.
  7. Afganistan (Skor 3.106): Meski tingkat terorisme menurun, isolasi internasional dan penindasan hak asasi manusia tetap menempatkannya di posisi bawah.
  8. Yaman (Skor 3.081): Krisis kemanusiaan yang masih belum tuntas meski ada gencatan senjata yang rapuh.
  9. Suriah (Skor 3.067): Setelah satu dekade perang, Suriah masih jauh dari kata pulih.
  10. Mali (Skor 2.996): Ketidakamanan di wilayah Sahel dan meningkatnya pengaruh kelompok ekstremis.

Pelajaran dari Negara Paling Tidak Damai: Mengapa Mereka Gagal?

Negara-negara di peringkat bawah sering kali terjebak dalam "perangkap konflik" yang memiliki pola serupa:

  1. Internasionalisasi konflik: Perang di Sudan dan Ukraina menunjukkan bahwa campur tangan pihak luar (sponsorship negara asing) membuat resolusi damai menjadi mustahil. Pihak luar memberikan senjata dan dana, sehingga pihak yang bertikai tidak memiliki insentif untuk berhenti berperang.
  2. Ekonomi perang yang mandiri: Banyak kelompok bersenjata kini mampu membiayai diri sendiri. Di Myanmar, ekonomi narkoba (methamphetamine) melonjak dari $10 miliar menjadi $35 miliar dalam satu dekade. Di Sudan, RSF mengendalikan tambang emas. Ketika perang menjadi bisnis yang menguntungkan, perdamaian dianggap sebagai kerugian ekonomi bagi para milisi.
  3. Fragmentasi geopolitik: Dunia sedang bergeser dari dominasi satu atau dua kekuatan besar ke sistem multipolar yang kacau. Munculnya "Kekuatan Menengah" (Middle Powers) seperti Türkiye, Iran, dan Arab Saudi yang bersaing berebut pengaruh regional membuat konflik lokal cepat meluas menjadi krisis regional.

Ancaman Baru: AI dan Wajah Perang Masa Depan

Laporan tahun ini memberikan bab khusus mengenai Kecerdasan Buatan (AI). Kita belajar bahwa teknologi telah memampatkan "rantai pembunuhan" (kill chain). Jika di tahun 1990-an butuh waktu satu hari untuk merencanakan serangan rudal, sekarang dengan AI di Ukraina dan Iran, waktu dari identifikasi target hingga eksekusi hanya butuh 5 detik.

Ketakutan terbesar adalah hilangnya pengawasan manusia. Sistem seperti Lavender di Gaza dilaporkan menandai puluhan ribu orang sebagai target dengan keterlibatan manusia yang minimal. Pelajaran pahitnya adalah: teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada hukum internasional yang mengaturnya.

Dampak Ekonomi yang Mencengangkan

Perdamaian bukan hanya isu moral, tapi juga isu ekonomi. Dampak kekerasan terhadap ekonomi global mencapai US21,8 triliun atau 10,5 persen dari PDB dunia. Ini berarti setiap orang di bumi secara tidak langsung kehilangan US2.657 karena uang tersebut digunakan untuk militer, keamanan, dan menanggung kerugian akibat kerusakan fisik.

Bayangkan jika hanya 10 persen dari angka itu dialihkan untuk pendidikan, kesehatan, atau mitigasi perubahan iklim. Dunia kita akan tampak sangat berbeda.

Kesimpulan: Apa yang Harus Dilakukan?

Laporan Global Peace Index 2026 adalah cermin retak dari kondisi dunia kita. Kedamaian tidak akan datang dengan sendirinya; kedamaian harus diusahakan. Pelajaran dari negara-negara damai jelas: kita perlu membangun masyarakat yang inklusif dan institusi yang transparan. Namun, pelajaran dari zona konflik juga tak kalah penting: kita harus memutus rantai pendanaan konflik dan membatasi internasionalisasi perang saudara.

Tanpa investasi serius pada Positive Peace dan kerja sama internasional untuk mengatur teknologi perang baru seperti AI, tren penurunan ini kemungkinan besar akan berlanjut. Dunia mungkin sedang terfragmentasi, namun keinginan untuk hidup dalam rasa aman tetaplah universal. Saatnya para pemimpin dunia berhenti mendanai kehancuran dan mulai membangun fondasi perdamaian yang berkelanjutan.

Ditulis berdasarkan laporan Global Peace Index 2026 oleh Institute for Economics & Peace.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumpun Dayak ini pernah punya usulan nama IKN dan gedung-gedung penting

Dialog Etnografi Borneo: Membangun pemahaman tentang keberagaman Kalimantan

Ketika “kemenangan” bukan soal menang: Strategi narasi kemenangan Iran ala Khamenei

Speedboat ke pedalaman Mahakam

Speedboat ke pedalaman Mahakam
Martinus Nanang di dermaga Samarinda Ilir