Bandara dan Hutan Tropis: Komitmen Lingkungan dari Balikpapan untuk Indonesia

Isu lingkungan tidak lagi menjadi pembicaraan yang hanya berlangsung di kalangan akademisi, aktivis, atau lembaga konservasi. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia usaha juga semakin menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai bagian penting dari strategi dan kebijakan perusahaan. Kesadaran bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan pelestarian alam mendorong banyak perusahaan untuk mengembangkan berbagai program ramah lingkungan. Salah satu contoh menarik dapat ditemukan di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan yang dikelola oleh PT Angkasa Pura Indonesia.

Hal tersebut terungkap dalam percakapan antara Martinus Nanang, host podcast The Voice of Tropical Rainforest, dengan Iwan Winaya Mahdar, General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Cabang Bandara Internasional SAMS Balikpapan. Dalam perbincangan tersebut, terlihat bagaimana sektor transportasi udara juga dapat berkontribusi terhadap upaya menjaga lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

Menurut Iwan Winaya Mahdar, PT Angkasa Pura Indonesia memiliki kebijakan lingkungan yang berlaku secara nasional di seluruh bandara yang dikelolanya. Kebijakan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari pengembangan konsep eco-airport atau bandara ramah lingkungan, pemanfaatan energi terbarukan, penghijauan kawasan bandara, hingga pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap lingkungan bukan hanya program tambahan atau kegiatan seremonial. Sebaliknya, isu lingkungan telah menjadi bagian dari tata kelola perusahaan. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap perubahan iklim, efisiensi energi, dan pelestarian keanekaragaman hayati, langkah semacam ini menjadi semakin relevan.

Bandara SAMS Balikpapan merupakan salah satu contoh implementasi nyata dari kebijakan tersebut. Sejak tahap perancangannya, bandara ini telah mengusung konsep yang ramah lingkungan dan berupaya menampilkan identitas Kalimantan sebagai wilayah hutan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Salah satu bentuk nyata dari konsep tersebut adalah penanaman berbagai tanaman endemik Kalimantan di area bandara. Tanaman-tanaman ini tidak hanya ditempatkan di luar gedung, tetapi juga di area keberangkatan dan kedatangan. Kehadiran vegetasi khas Kalimantan menciptakan suasana yang berbeda dibandingkan banyak bandara lain. Para penumpang yang baru tiba atau hendak berangkat dapat merasakan sekilas nuansa hutan tropis Kalimantan tanpa harus meninggalkan kawasan bandara.

Pendekatan ini bukan hanya untuk mempercantik ruang publik. Bandara merupakan gerbang utama sebuah daerah. Bagi banyak pengunjung, kesan pertama tentang Kalimantan dimulai ketika mereka menginjakkan kaki di Bandara Balikpapan. Dengan menghadirkan unsur-unsur alam tropis ke dalam desain dan tata ruang bandara, identitas ekologis Kalimantan diperkenalkan sejak awal kepada para pengunjung.

Selain aspek estetika dan edukasi lingkungan, Bandara SAMS Balikpapan juga menerapkan prinsip efisiensi energi. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengoptimalkan penggunaan cahaya alami. Desain bangunan memanfaatkan atap dan dinding yang transparan sehingga sinar matahari dapat masuk secara maksimal ke dalam ruangan.

Pendekatan ini menghasilkan manfaat yang signifikan. Dengan memanfaatkan pencahayaan alami, kebutuhan terhadap lampu listrik pada siang hari dapat dikurangi secara drastis. Menurut penjelasan Iwan Winaya Mahdar, penghematan energi yang diperoleh dapat mencapai sekitar 50 persen dibandingkan jika seluruh kebutuhan pencahayaan mengandalkan listrik.

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tantangan pengurangan emisi karbon, efisiensi seperti ini menjadi langkah yang sangat penting. Pengurangan konsumsi listrik tidak hanya berdampak pada penghematan biaya operasional, tetapi juga berkontribusi terhadap upaya mengurangi jejak karbon sektor transportasi udara yang selama ini sering mendapat sorotan terkait dampaknya terhadap lingkungan.

Komitmen lingkungan PT. Angkasa Pura Indonesia juga tidak berhenti pada pengelolaan kawasan bandara. Secara nasional, perusahaan ini memiliki program penanaman satu juta pohon yang didistribusikan ke 37 bandara yang berada di bawah pengelolaannya. Program tersebut menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dipandang sebagai tanggung jawab yang melampaui batas fisik bandara.

Untuk Bandara SAMS Balikpapan sendiri, alokasi tahun 2026 yang diberikan mencapai sekitar 7.000 pohon. Menariknya, pohon-pohon tersebut tidak harus ditanam di dalam kawasan bandara. Menurut Iwan Winaya Mahdar, penanaman dapat dilakukan di berbagai lokasi yang memiliki nilai ekologis penting, seperti kawasan Bukit Soeharto, Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Mulawarman, lingkungan kampus, maupun hutan kota.

Fleksibilitas ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara perusahaan, pemerintah, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dan masyarakat. Melalui kerja sama tersebut, manfaat ekologis dari program penghijauan dapat dirasakan oleh kawasan yang lebih luas dan memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap pelestarian lingkungan.

Penanaman pohon memiliki berbagai manfaat ekologis. Selain membantu menyerap karbon dioksida dari atmosfer, pohon juga berperan dalam menjaga kualitas udara, mengurangi risiko erosi, memperbaiki tata air, serta menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa. Dalam konteks Kalimantan yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan hutan hujan tropis terpenting di dunia, program penghijauan semacam ini memiliki nilai strategis yang sangat besar.

Pada akhir percakapan, Martinus Nanang menyimpulkan bahwa komitmen lingkungan PT Angkasa Pura Indonesia menunjukkan keseriusan yang patut diapresiasi. Komitmen tersebut tidak hanya diwujudkan melalui konsep eco-airport di dalam kawasan bandara, tetapi juga melalui berbagai program yang memberikan manfaat bagi lingkungan dalam skala yang lebih luas.

Bandara tidak lagi dipandang semata-mata sebagai infrastruktur transportasi yang melayani mobilitas manusia. Dengan pendekatan yang tepat, bandara dapat menjadi ruang edukasi lingkungan, pusat efisiensi energi, sekaligus bagian dari gerakan konservasi alam. Pengalaman Bandara SAMS Balikpapan menunjukkan bahwa pembangunan modern dan pelestarian lingkungan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama, saling mendukung, dan menjadi contoh bagaimana sektor bisnis berkontribusi dalam menjaga masa depan bumi yang lebih berkelanjutan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumpun Dayak ini pernah punya usulan nama IKN dan gedung-gedung penting

Dialog Etnografi Borneo: Membangun pemahaman tentang keberagaman Kalimantan

Ketika “kemenangan” bukan soal menang: Strategi narasi kemenangan Iran ala Khamenei

Speedboat ke pedalaman Mahakam

Speedboat ke pedalaman Mahakam
Martinus Nanang di dermaga Samarinda Ilir