Fenomena "bahasa gado-Gado": Polusi atau evolusi?

Bayangkan sebuah adegan di kedai kopi modern di Jakarta Selatan, atau mungkin di sebuah warung makan di pinggiran Ibu Kota Nusantara. Anda mendengar seseorang berbicara, dan kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar seperti mozaik budaya yang rumit:

"Sorry ya, aku lagi hectic banget nih, deadline numpuk. Sampeyan tunggu sek ya, nanti tak kabari lagi."

Dalam satu tarikan napas (kurang dari sepuluh detik) penutur tersebut telah melintasi tiga benua dan tiga budaya. Ada Bahasa Inggris (sorry, hectic, deadline) yang mewakili modernitas global, Bahasa Indonesia (aku, lagi, banget) sebagai penyatu nasional, dan Bahasa Jawa (sampeyan, sek, tak) yang menyiratkan keakraban etnis.

Fenomena ini ada di mana-mana. Kita mendengarnya dalam dialek "Anak Jaksel", dalam percakapan pedagang di pasar tradisional yang mencampur bahasa Indonesia dengan Betawi atau Sunda, hingga di daerah transmigrasi di mana asimilasi budaya melahirkan hibrida unik seperti bahasa pergaulan Dayak-Jawa.

Bagi sebagian kalangan—terutama kaum purist atau penjaga kemurnian bahasa—gejala ini sering kali memicu kekhawatiran. Ada anggapan bahwa fenomena ini adalah tanda kemalasan berpikir, erosi nasionalisme, atau bahkan "polusi" terhadap Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, apakah benar demikian?

Jika kita membedahnya menggunakan pisau analisis sosiolinguistik, psikologi kognitif, dan studi budaya, fenomena yang secara akademis dikenal sebagai "alih kode" (code-switching) dan "campur kode" (code-mixing) ini ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar "ikut-ikutan tren". Ini adalah mekanisme sosial yang brilian dan bukti adaptabilitas otak manusia.

Mari kita telusuri fenomena ini melalui kacamata para pemikir besar dunia.

Howard Giles dan seni menjadi "bunglon sosial"

Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: Mengapa kita melakukannya? Mengapa seorang eksekutif muda di Sudirman tiba-tiba menyisipkan bahasa daerah saat bertemu teman lama dari kampung, padahal lima menit sebelumnya ia berbicara dengan istilah korporat Inggris yang canggih?

Jawabannya terletak pada Communication Accommodation Theory (CAT) atau Teori Akomodasi Komunikasi. Teori ini dikembangkan pada awal 1970-an oleh Howard Giles, seorang profesor komunikasi dan psikologi sosial terkemuka.

Giles mengajukan tesis bahwa manusia pada dasarnya adalah "bunglon sosial". Ketika berinteraksi, kita secara tidak sadar terus-menerus menyesuaikan (mengakomodasi) gaya bicara, intonasi, dan pilihan kata kita agar sesuai dengan lawan bicara. Proses ini disebut "konvergensi" (convergence).

Dalam konteks campur kode Indonesia-Jawa atau Indonesia-Betawi, konvergensi berfungsi sebagai perekat sosial. Ketika Anda menyisipkan kata "nggih" atau "monggo" kepada orang yang lebih tua, atau menggunakan "elu-gue" kepada teman sebaya, Anda sedang mengirimkan sinyal non-verbal: "Saya menghormati Anda" atau "Saya adalah bagian dari kelompok Anda."

Bahasa, dalam pandangan Giles, bukan sekadar alat transfer informasi, melainkan alat negosiasi jarak sosial. Jika Anda bersikeras menggunakan Bahasa Indonesia baku yang kaku saat teman-teman Anda menggunakan bahasa gaul campuran, Anda melakukan apa yang disebut Giles sebagai “divergensi”. Hal ini justru menciptakan jarak dan bisa dianggap sombong atau tidak asyik. Jadi, campur bahasa sering kali merupakan tuntutan etika sosial untuk menjaga keharmonisan hubungan.

Pierre Bourdieu dan pasar bahasa: Mengapa "Jaksel" itu mahal?

Namun, teori akomodasi Giles belum sepenuhnya bisa menjelaskan fenomena "Bahasa Anak Jaksel" atau penggunaan istilah Inggris yang masif di kalangan profesional. Mengapa kata "literally", "preference", atau "insecure" lebih dipilih ketimbang padanannya dalam bahasa Indonesia? Apakah hanya soal gaya?

Di sinilah kita perlu meminjam kacamata sosiolog Prancis legendaris, Pierre Bourdieu. Dalam karyanya yang berpengaruh, Language and Symbolic Power (1991), Bourdieu memperkenalkan konsep “pasar linguistik” (linguistic market).

Bourdieu berargumen bahwa bahasa adalah sebuah bentuk “modal budaya” (cultural capital). Sama seperti uang (modal ekonomi), bahasa memiliki nilai tukar. Di "pasar" masyarakat modern yang terglobalisasi, Bahasa Inggris memiliki nilai tukar yang sangat tinggi. Ia diasosiasikan dengan pendidikan tinggi, akses informasi global, modernitas, dan profesionalisme.

Ketika seseorang melakukan campur kode Indonesia-Inggris, secara tidak sadar mereka sedang "memamerkan" modal simbolik mereka. Ini adalah strategi pembedaan (distinction). Dengan berkata, "Which is, secara financial kita harus prudent," penutur tersebut sedang memposisikan dirinya di kelas sosial tertentu: kelas menengah terdidik yang kosmopolitan.

Sebaliknya, bahasa daerah sering kali memiliki nilai pasar yang berbeda, biasanya terkait dengan "nilai solidaritas" atau "keaslian" (authenticity). Jadi, campur kode adalah cara manusia modern menavigasi pasar sosial: menggunakan "mata uang" Inggris untuk transaksi profesional/status, dan "mata uang" Daerah untuk transaksi emosional/kekeluargaan.

François Grosjean dan mitos otak yang bingung

Kritik yang sering dilontarkan pada pencampur bahasa adalah bahwa mereka tidak menguasai salah satu bahasa dengan baik. "Kalau ngomong Inggris ya Inggris saja, kalau Indo ya Indo saja, jangan dicampur!" begitu kata para kritikus. Mereka menganggap campur kode adalah tanda inkompetensi atau kebingungan otak.

Anggapan ini dibantah keras oleh François Grosjean, mantan direktur Laboratorium Pemrosesan Bahasa dan Bicara di Universitas Neuchâtel, Swiss. Dalam bukunya yang terkenal, Bilingual: Life and Reality, Grosjean menolak pandangan bahwa seorang dwibahasawan (bilingual) adalah "dua orang monolingual dalam satu tubuh".

Grosjean mengajukan The Complementarity Principle (Prinsip Komplementaritas). Ia menjelaskan bahwa bilingual biasanya menggunakan bahasa yang berbeda untuk tujuan, domain kehidupan, dan orang yang berbeda. Akibatnya, beberapa konsep atau emosi lebih "hidup" atau lebih mudah diakses di satu bahasa dibandingkan bahasa lainnya.

Mari kita ambil contoh kata "download". Bagi generasi digital Indonesia, konsep mengunduh data dipelajari pertama kali melalui antarmuka komputer yang berbahasa Inggris. Secara kognitif, jalur saraf di otak untuk memanggil kata "download" jauh lebih kuat dan cepat (lexical availability) dibandingkan kata "unduh". Menggunakan kata "download" di tengah kalimat bahasa Indonesia bukan tanda tidak cinta tanah air, melainkan tanda "efisiensi kognitif". Otak memilih jalur yang paling hemat energi.

Hal yang sama berlaku untuk emosi. Penelitian psikolinguistik menunjukkan bahwa “sistem limbik” (pusat emosi di otak) memiliki ikatan yang lebih kuat dengan bahasa ibu (bahasa pertama). Inilah sebabnya mengapa saat seseorang marah besar, terkejut, atau kesakitan, mereka cenderung kembali ke bahasa daerah atau bahasa ibu mereka, meskipun sedang berbicara dalam forum formal. Umpatan atau seruan spontan seperti "Aduh!" atau "Jancuk!" (Jawa Timur) memiliki bobot rasa yang tidak bisa digantikan oleh terjemahannya. Campur kode di sini berfungsi untuk mengisi kekosongan emosi (emotional gap) yang tidak bisa diwakili oleh bahasa kedua.

Roland Robertson dan Homi K. Bhabha: Lahirnya "ruang ketiga"

Jika kita melihat ke luar Jawa, fenomena campur bahasa menjadi lebih menarik lagi. Anda menyebutkan fenomena Dayak-Jawa di Kalimantan atau Indonesia-Melayu di Sumatera. Apa yang terjadi di sini bukan sekadar gaya atau efisiensi, melainkan kelahiran budaya baru.

Sosiolog Roland Robertson mempopulerkan istilah ”glokalisasi” (glocalization) — gabungan dari globalisasi dan lokalisasi. Robertson berargumen bahwa budaya global tidak serta merta menghapus budaya lokal, melainkan berinteraksi dengannya untuk menciptakan varian baru.

Namun, untuk memahami fenomena hibrida seperti masyarakat transmigran, kita bisa melihat teori dari pemikir pascakolonial, Homi K. Bhabha. Bhabha memperkenalkan konsep The Third Space (Ruang Ketiga) atau Hibriditas.

Menurut Bhabha, ketika dua budaya bertemu (misalnya budaya pendatang Jawa dan budaya lokal Dayak), interaksi mereka tidak sekadar tumpang tindih, tetapi menciptakan "Ruang Ketiga" yang unik. Di ruang ini, bahasa yang muncul bukan lagi sepenuhnya Jawa, dan bukan sepenuhnya Dayak. Percampuran sintaksis dan kosakata tersebut adalah identitas baru bagi anak-anak yang lahir di tanah perantauan.

Mereka mungkin menggunakan struktur kalimat Jawa tapi dengan kosakata Dayak, atau sebaliknya. Ini adalah mekanisme pertahanan budaya dan adaptasi. Mereka tidak ingin kehilangan akar leluhur (Jawa), namun harus bertahan hidup dan menghormati tanah pijakan (Dayak). Campur kode di sini adalah manifestasi dari identitas hibrida yang cair dan adaptif.

John J. Gumperz: Alih kode metaforis

Terakhir, kita tidak bisa melupakan kontribusi John J. Gumperz, antropolog linguistik yang membedakan alih kode menjadi dua: Situational dan Metaphorical.

Yang menarik adalah Metaphorical Code-Switching. Gumperz menjelaskan bahwa kita sering berganti bahasa untuk memberi "warna" atau penekanan pada pembicaraan, meskipun situasinya tidak berubah.

Contoh sederhananya adalah ketika seorang dosen sedang menjelaskan materi kuliah yang rumit (menggunakan Bahasa Indonesia baku), lalu tiba-tiba menyisipkan lelucon dalam bahasa daerah untuk mencairkan suasana. Perubahan kode ini berfungsi sebagai metafora: Bahasa Indonesia mewakili "keseriusan/akademis", sementara bahasa daerah mewakili "humor/kehangatan". Tanpa kemampuan campur kode ini, komunikasi manusia akan terasa sangat datar, monoton, dan robotik.

Masa Depan: Apakah rren ini aan berlanjut?

Mengingat semua teori di atas, kita bisa menarik kesimpulan tentang masa depan fenomena ini. Apakah akan berhenti? Jawabannya: Tidak. Justru akan semakin intensif dan kompleks.

Ada tiga pendorong utama yang menjamin keberlanjutan tren ini:

  1. Hiper-konektivitas digital: Internet telah meruntuhkan batas geografis bahasa. Generasi Alpha hari ini mengonsumsi konten TikTok dari Amerika, anime dari Jepang, dan drama dari Korea secara simultan. Kosakata asing masuk ke dalam repertoar bahasa harian mereka dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Istilah-istilah internet (slang) menjadi bahasa pergaulan global yang tak terelakkan.
  2. Mobilitas manusia: Urbanisasi dan migrasi antar-pulau maupun antar-negara akan terus meningkat. Pertemuan fisik antar-budaya (seperti kasus Dayak-Jawa) akan terus melahirkan dialek-dialek hibrida baru di berbagai kantong pemukiman.
  3. Hukum evolusi bahasa: Bahasa adalah organisme yang hidup. Sejarah membuktikan bahwa Bahasa Indonesia sendiri adalah hasil "campur kode" besar-besaran selama berabad-abad, menyerap bahasa Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, dan Melayu Riau. Apa yang kita alami sekarang dengan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah hanyalah kelanjutan dari proses evolusi tersebut.

Merayakan fluiditas

Sebagai penutup, sudah saatnya kita berhenti melihat gejala campur bahasa sebagai sebuah anomali atau "kerusakan". Sebaliknya, ini adalah bukti kecerdasan linguistik masyarakat kita.

Kemampuan untuk berpindah kode dengan mulus (Tahu kapan harus menggunakan "Saya haturkan terima kasih" dan kapan harus menggunakan "Thanks a lot, guys") adalah keterampilan komunikasi tingkat tinggi. Ini menunjukkan bahwa penutur tersebut memiliki kepekaan sosial (Giles), memahami posisi tawar dirinya (Bourdieu), bekerja secara efisien secara kognitif (Grosjean), dan mampu beradaptasi dalam ruang budaya baru (Bhabha).

Tentu saja, konteks tetaplah raja. Kemampuan menempatkan bahasa sesuai situasi (register) tetap harus dijaga. Kita tetap menggunakan Bahasa Indonesia baku dalam dokumen negara atau sidang skripsi. Namun, dalam ruang interaksi sosial yang cair, marilah kita rayakan "bahasa gado-gado" ini sebagai identitas manusia Indonesia modern: berakar kuat pada budaya lokal, namun dengan tangan terbuka merangkul dunia global.

Jadi, jika besok Anda mendengar seseorang berkata, "Meeting-nya kita postpone dulu ya, aku mau sowan ke rumah Eyang di kampung," tersenyumlah. Anda sedang menyaksikan sebuah orkestra sosiolinguistik yang indah sedang dimainkan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog Etnografi Borneo: Membangun pemahaman tentang keberagaman Kalimantan

Rumpun Dayak ini pernah punya usulan nama IKN dan gedung-gedung penting

Argumen antropologis pentingnya warga Balik dan Paser di IKN tetap hidup berkomunitas

Speedboat ke pedalaman Mahakam

Speedboat ke pedalaman Mahakam
Martinus Nanang di dermaga Samarinda Ilir